KulWA #19 “Membangun Bisnis Berjamaah”

flyer basri adhi-moderator
Moderator :  Bismillahirahmanirrahiim Assalamualaikum wr wb… Salam sejahtera bagi kita semua, puji syukur kepada Allah Swt , yang memberikan memberikan nikmat sehat sehingga bisa mengikuti Kulwa malam ini.Selamat malam bapak, ibu dan teman semuaSebelumnya terimakasih telah memberi kesempatan saya menjadi moderator dalam acara KulWa malam ini yg bertema Membangun Bisnis Berjamaah.
Moderator : Sebelum masuk masuk sesi belajar dan menimba ilmu dari Bapak Basri Adhi, boleh saya sampaikan bahwa Whatsapp Group ini dinamakan Grup Diskusi Rating & Pendampingan UMKM, digagas pembentukannya sebagai sarana belajar bersama para pimpinan Jamkrindo, khususnya untuk kompetensi baru yg sedang dibangun perusahaan di bidang pemeringkatan dan pendampingan UMKM.
Untuk selanjutnya kami sampaikan sedikit informasi dari Narasumber kita :

Nama :  Basri AdhiTempat Tgl Lahir  :  Semarang 1971Orang Tua  :  (Alm)  Suwito dan HartutiPendidikan :  Teknologi Industri Pertanian (S1) IPB Lulus Tahun 1994Pengalaman Bekerja :  Lahir di Semarang tahun 1971 dari pasangan (alm) Suwito dan Hartuti. Menempuh pendidikan di kota tersebut hingga SMA, kemudian mendapat kesempatan kuliah di IPB melalui jalur undangan. Walaupun berlatar belakang pendidikan Teknologi Industri Pertanian yang diselesaikannya tahun 1994, namun karena minatnya yang tinggi pada dunia jurnalisme membawanya berkarir di dunia media massa. Sebutlah mulai dari REPUBLIKA, TEMPO, KOMPAS Grup, hingga harian SEPUTAR INDONESIA sudah pernah mendapat sentuhan tangan dinginnya. Jabatan terakhir yang pernah diamanhkan padanya adalah General Manager Marketing di Harian SEPUTAR INDONESIA. Tahun 2006 Basri memutuskan pensiun dari dunia media serta memutuskan terjun 100% menjadi seorang Entrepreneur. Dimulai dari sebuah gerobak kecil di depan Ruko Villa Indah Pajajaran Bogor, kini usahanya –MISTERBLEK coffee- sudah diwaralabakan dengan 208 outlet di 26 kota di Indonesia. Tahun 2014, Basri bersama istrinya yang juga Sarjana Teknologi Industri Pertanian IPB mendirikan sebuah Principal Agency untuk sebuah perusahaan asuransi multinasional di kota Bogor. Agensi itu dinamakannya BHR, kependekan dari Bogor Happy Raining. Di agensi tersebut, sebagai co-owner, Basri berperan dalam penentuan strategi marketing, training &development serta manajemen kantor. Dengan dua usaha yang dipimpinnya, Basri Adhi saat ini menjadi Leader untuk 200-an orang anggota teamnya. Di sela kesibukannya mengelola MISTERBLEK dan BHR, Basri masih menyempatkan menulis di beberapa media cetak tentang motivasi serta manajemen pengelolaan keuangan keluarga, serta berkeliling “ngamen” dalam banyak seminar untuk berbagi semangat kemandirian menjadi seorang entrepreneur.

Narasumber  : “cerita” akan saya mulai selepas kuliah, karena kecintaan saya pada dunia media membuat saya yang lulusan sekolah pertanian kesasar ke dunia media. Kurang lebih 12 tahun di dunia media (terutama koran) saya belajar satu hal : bahwa koran adalah produk yang paling sulit dijual. Dulu, di sekolah saya belajar bahwa produk “perishable” adalah buah, sayur dan daging. umurnya pendek, perlu penangannan khusus ketika menjual karena sifatnya yang mudah rusak. tapi ternyata produk paling perishable adalah koran, umurnya produk hanya 3 jam tidak bisa lebih. Namun, di industri koran juga saya belajar bahwa produk yang sensitif secara umur ekonomis itu bisa diatasi distribusinya melalui sebuah “mekanisme jamaah” yang luar biasa bagus. Yaitu jaringan keagenan. Dengan jaringan jamaah keagenan itu, kami bisa memastikan bahwa koran bisa diterima pada jam sama antara pelanggan di bandung, banten dan jakarta padahal koran dicetak di Jakarta. Kondisi itulah yang menginspirasi saya mengembangkan bisnis saya (bertahun-tahun kemudian) dengan sistem jamaah ini.
Tahun 2006 ketika saya memutuskan “pindah kuadran” yang saya fikirkan saat itu adalah bagaimana membuat usaha saya ini tidak sekedar -meminjam istilah pak Rhenal Kasali” – sebagai Gerobakpreneur. Entrepreneur yang mengembangkan usaha dengan gerobak dan hanya memberi impact pada keluaragnya saja, bukan pada komuniti yang lebih luas… Maka tahun 2007 saya mulai belajar soal franchise dan mengembangkan MISTERBLEK coffee dengan pola “mirip” franchise.   Narasumber  :  Sekilas Pengantar dari saya.

Moderator :  Untuk usaha franchise ada kah kiat khusus Pak, bagaimana membidik pangsa pasar yang cocok? Narasumber  :   Mungkin sebelum membidik pasar, kita bicara mengapa usaha -sebaiknya- dikembangkandengan pola (mirip) franchise. Mungkin kita pernah mendengar pepatah yang bilang “kalau kita mau pergi cepat, jalanlah sendiri. Tapi kalau mau pergi jauh, pergilah bareng-bareng”. Franchise memungkinkan itu. Sebagai Franchisor kita ibaratkan sebagai Imam yang menunjukkan jalan, mengajar, memberi sharing pengalaman. Franchisee yang (rata-rata) belum pengalaman tinggal ikut. Itu yang kemudian saya maksud sebagai sistem atau pola Jamaah. Ada Leader, ada Follower. Untuk membidik pasar yang cocok, saya dulu hanya melihat peluang begini : Starbucks tahun 2006 belum sehebat sekarang di Indonesia, tapi hampir semua kalangan sudah mengenal, hanya tak semua mampu meng-aksesnya. Harga adalah restriksi utama, maka saya terfikir membuat usaha kopi, mirip Starbucks tapi bisa diakses semua kalangan, dengan harga terjangkau (murah). Supaya bisa murah, maka jaringan saya harus besar (supaya akses ke bahan baku juga murah), maka sistem franchise adalah salah satu jawaban menjawab peluang itu.

Moderator   :   Untuk membentuk jaringan keagenan itu sendiri, pola seperti apa yg diterapkan, apakah Bapak sendiri yg mencari mitra atau mitra yg meminta menjadi agen?  Narasumber : Pola yang saya terapkan :   Pertama, saya harus menjadi Role Model yang baik. Artinya saya harus memiliki outlet sendiri yang sudah berjalan, jelas hitungan bisnisnya dan bisa ditiru.   Kedua, saya membuat dokumentasi Sistem Operasional dari usaha saya itu, tentang manajemen bahan baku, inventory, Human Resources (seperti yangkrusial sistem remunerasi)    Ketiga, saya “menjaring” calon mitra dengan memanfaatkan sosial media. 90% mitra saya  menemukan MISTERBLEK di internet, karena saya kebetulan aktif di sosial media dan membuat blog. Di samping itu, di dunia nyata-nya saya cukup intens ikut event-event seperti bazaar, konser dan semacam itu. Itu mengapa saya punya “food truck” seperti foto di atas   Jadi jaringannya saya “create” dengan aktif melakukan “campaign” di dunia maya serta dunia nyata. Salah satu contoh aktivitas campaign di dunia nyata : ikut event bazaar

Moderator  : Terimakasih Bapak ,

Moderator : Menarik sekali pembahasan dari bapak basri, seperti kita ketahui dengan pola penjualn franchise ini banyak pesaing yang menjual produk olahan kopi dengan sistem ini juga. Bisa bapak sampaikan kesulitan dalam membangun bisnis dalam pola franchise/keagenan ini? Narasumber   : Satu hal yang memang saya harus akui sebagai salah satu keuntungan bagi MISTERBLEK adalah momentum. Saya memulai usaha ini 10 tahun lalu, dimana belum banyak orang yang terlalu “melirik” kopi. Itu keuntungan besar buat saya. Waktu itu, ini adalah “Blue Ocean”. Tapi beda halnya dengan sekarang, ini sudah jadi bisnis yang “Red Ocean”. Dalam kurun 10 tahun itu, sudah banyak hal yang kami lakukan yang membuat hingga kini secara bisnis, kami tak terlalu terganggu dengan kompetitor yang tiap hari bermunculan Selain momentum, kami juga memiliki keunggulan di “secret ingredient” dari produk olahan kopinya. Dengan “secret ingredients” itu, kami masih tetap bisa menciptakan sajian olahan kopi ala Waralaba Asing, namun dengan harga murah (karena harga bisnisnya juga murah). Saat ini kami hanya menjual 2 paket usaha : 15 dan 50 juta. Dengan modal segitu, sudah bisa punya warung kopi seperti dalam gambar itu… modal kecil, BEP cepat jadi tak perlu harus jual mahal-mahal produknya
Jadi dalam usaha (terutama pola franchise) saya percaya : selain Sietem yang baik, Momentum dan Secret Ingredients adalah penentu kelangsungan hidup usaha itu. kesulitannya adalah mitra yang saya hadapi tidak semua memiliki visi yang sama. ada yang serius, ada yang sekedar coba-coba.

Moderator  : Terimakasih Bapak ,  Bapak Ibu yg ada pertanyaan ayuk silakan japri ke kami, Indonesia timur masih menyimak  Mohon maklum Pak Basri di Papua sudah jam 11. Kami lanjutkan kembali Pak, Bahwa dalam menjaga bisnis ini bapak juga melakukan inovasi. Inovasi apakah yang menurut bapak lebih berpengaruh : inovasi terhadap produk atau inovasi terhadap sistem operasi yang sudah ada?    Narasumber : Baik. Sebagai Imam dari (jamaah) usaha MISTERBLEK ini, kami memang yang harus menjadi sentral dari inovasi. Kami mendapat masukan juga dari mitra, namun tetap kami yang harus memikirkan eksekusinya. Inovasi justru lebih banyak kami lakukan pada SISTEM OPERASI. Karena, kebutuhan dan ekspektasi konsumen setiap hari berubah. Contoh dari Inovasi Sistem Operasi misalnya : Bagaimana sebaiknya jam kerja karyawan, kemudian sistem remunerasi (gaji, tunjangan dan bonus-bonus) yang intinya mendorong karyawan memberi pelayanan lebih baik dan menjual lebih banyak. Inovasi produk tidak banyak kami lakukan karena saya sadar keterbatasan saya : tidak semua daerah sanggup melakukan -misalnya- penggantian menu secara berkala. selain persoalan selera, juga inventory. Misal : ada suatu daerah yang sangat fanatik pada olahan Cappucino, ada yang tidak suka. Maka inovasi produk kurang begitu berpengaruh. Salah satu contoh dari inovasi sistem operasi adalah perubahan sistem pembayaran imbalan untuk karyawan. Pada awal-awalnya kami memberi gaji tetap : ternyata ini tidak memotivasi. Kemudian Full Komisi berdasarkan omzet penjualan : juga tak memotivasi. sampai akhirnya kami membuat kombinasi : Ada gaji tetap (walaupun kecil porsinya, hanya untuk memenuhi kebutuhan dasar) dibayarkan BULANAN, Ada Uang Harian (sebagi pengganti transport dan makan) dihitung progresif berdasar omzet dibayarkan MINGGUAN, dan ada Bonus penjualan (2.5% dari omzet total satu bulan) yang dibagi rata pada semua karyawan, juga BULANAN. Ini terbukti memacu kinerja.

Moderator : Wah ini kalau tentang gaji menarik ini Pak 😊, biasanya langsung semangat Bapak kalau membahas tentang gaji
ini sdh ada pertanyaan yg masuk Bapak   Pertanyaan pertama Pak, Dari Mas Danar Wirapratama, dari Kanca Kudus.  Sebagai seorang enterpreuner,hal yg mendasar adalah bahan baku dg kualitas baik  dan memiliki contiunity. Bagaimana awal mula membuka jaringan pemasok bahan baku biji kopi hingga saat ini?   Narasumber  : Terimakasih pak danar. Benar, bahan baku adalah faktor utama. Saat pertama kali saya membuat usaha ini, saya mencari informasi dari berbagai sumber. Kebetulan dulu saya bekerja di media massa, jadi saya menemukan Bahan Baku dari sumber saya tersebut. Pada awalnya kami masih membeli bahan baku secara tunai (karena jumlah pesanan masih kecil), hingga lama-lama dipercaya diberikan kelonggran sistem pembayaran. Berdasar pengalaman saya, cara terbaik menemukan bahan baku yang kontinyu dan bermutu baik : menemukan pemasok, menjaga hubungan baik dengan pemasok tersebut. Jangan terlalu “silap” dengan penawaran harga lebih murah, namun akhirnya mengorbankan hubungan baik dengan pemasok yang sudah “membantu’ kita sejak usaha kita masih kecil. Saat ini saya memiliki dua pemasok yang sudah men-support saya sejak tahun 2008, dan kunci mendapatkan bahan baku terbaik dengan stok yang selalu mencukupi hanya satu : menjaga hubungan baik.     Mungkin ini bisa menjawab pertanyaan pak danar

Moderator :  Kami lanjut pertanyaan ke 2 Pak, Dari Mas Iwan hermanto Divisi Pukm, Bagi sebagian  besar UMKM, akses pendanaan adalah hal yg sulit. Bagaimana pengalaman dan pandangan Pak Basri dan teman2 UMKM ttg hal ini ?     Narasumber   : Benar sekali, dan seringkali di sini titik lemah UMKM seperti saya. Ketika bicara soal akses pendanaan maka akan berkutat soal : agunan, pencatatan keuangan; yang rata-rata pemula tidak memiliki. Saya memiliki pengalaman diberi pinjaman usaha (KUR) oleh sebuah bank BUMN, namun justru itu menjadi pengalaman yang kurang baik bagi saya. Saat itu usaha belum stabil, omzet masih mirip roller coaster, dan bank memang hanya berfungsi sebagai kreditor semata. memberi kredit dan menagih cicilannya tiap bulan. Tidak ada Coaching, tidak ada pendampingan, maka saya melihat, banyak teman-teman saya sesama UMKM yang justru kolaps setelah mendapat pinjaman dari Bank. mengapa ? Pertama : Tidak banyak Lembaga Pembiayaan atau semacamnya yang bisa memberikan Coaching bagiamana mengelola uang pinjaman dengan bijak. Dan Repotnya, banyak UMKM belum siap menerima pinjaman (apalagi dalam jumlah besar). RAB yang disusu ketika mengajukan pinjaman -umumnya- justru sekedar template dari petugas lembaya pembiayaan, yang para pelaku usahanya terima beres saja. Kedua : Literasi Perencanaan Keuangan para pelaku UMKM kita rendah (sekali). Mereka kebanyakan tak mengerti Diversifikasi Investasi yang baik. maka jangan heran, banyak yang kejeblos model Koperasi Langit Biru atau Koperasi Pandawa. Dan belum ada lembaga yang cukup intens memberikan edukasi soal penting ini. Mereka menghasilkan uang, tapi tak berhasil mengelolanya Kira-kira itu pandangan, berdasar pengalaman saya, Pak Iwan dan bu Etyk

Moderator :  Lanjut untuk pertanyaan ke 3 ya Pak, Dari Bapak Abdul Bari Kepala Sekper Jamkrindo
1. Pengamatan Bapak dalam usaha jamaah atau istilah waralaba/franschise sering terjadi jenuh sehingga perlu ada perubahan..bahkan tak jarang satu persatu tumbang..kira2 penyebab utama apa selain2 hal2 diatas? Apa siklus memang demikian?
2. Ada standar khusus kah target customer yg paling memungkinkan cepat dpt profit kalau kita mau usaha bagi pemula?

Narasumber :  Pertanyaan yang menarik pak Bari. Jawaban pertanyaan no 1. Saya melihat, selain faktor momentum (usahanya sudah berada di sektor yang Red Ocean, bukan lagi Blue Ocean), para pelakunya juga “malas” pak. Saya melihat, dari Franchisee saya yang berhasil (ada salah satu Franchisee saya di Sukabumi sudah punya 2 outlet) dia rajin melakukan adaptasi atas Ide Inovasi yang kami lakukan. Misalnya soal pola2 promosi. Franchisee akan sulit bertahan kalau omzetnya kecil (sehebat papun Franchisornya). Omzet kecil bisa karena memang usahanya sudah mulai “mature”, juga Franchisee-nya tak mengelola usahanya dengan baik : misalnya sudah merasa jadi bos besar dan menyerahkan 100% usaha pada karyawan. Maklum ada kredo “racun” : Usaha jalan, pemiliknya jalan-jalan. Itu yang merusak mental para pemula umumnya terlalu cepat merasa jadi bos. Maka yang Franchisor harus lakukan adalah proses monitoring yang “ketat” pada para Franchisee. Misal kalau di tempat kami dilakukan dengan cara yang mudah seperti Ini Franchisee A biasanya order bahan baku senilai Rp 5 juta, tapi kok sudah 3 kali order selalu di bawah 5 juta. Ada apa? maka kami akan melakukan kontak.

Jawaban pertanyaan kedua : Kalau Standar target market : tergantung kekuatan capital yang dimiliki pak. Sejak awal target market saya adalah kelas massal, kelas TPI kata bos saya dulu di Seputar Indonesia. Kelas ini jumlahnya banyak, tapi sensnitif pada harga. maka menjual pada segmen ini kita tak bisa terlalu berharap pada margin yang besar, tapi mainnya volume. Keuntungannya menggarap segmen ini adalah : tidak rewel atau cerewet soal service dan kualitas kemasan.   Kalau kapitalnya kuat, bolehlah menggarap segmen menengah atas (kelas RCTI). Mereka tidak sensitif soal harga, mementingkan gaya, namun rewel atau cerewet soal service dan pelayanan Jadi pemilihan segmen tergantung kapital yang kita miliki juga pak Barangkali waktunya sudah hampir habis.

Moderator : Boleh 1 lagi pertanyaan Pak   Narasumber  :  Ya bu, silakan. Dari Pak Loesdarwanto Kakanwil SurabayaDengan banyaknya bisnis sajian kopi saat ini yg sdh begitu ketat persainganya, value dasar apa yg bisa ditawarkan spy bisa terus bertahan dlm persaingan ngupi ini?

 

Dr Pak Wahyu Thea : Bagaimana Bapak dalam menjalankan usaha sekarang ini, agar tidak tergilas oleh keadaan apapun zaman yg cepat berubah karena pola hidup dan adanya perkembangan teknologi yg cepat ?

Narasumber : Baik pak Loerdarwanto dan Pak Wahyu. Value yang saya tawarkan adalah bisnis ini adalah bisnis yang tak sekedar menjadi “gerobakpreneur” belaka. Salah satu cara saya menyampaikan value ini adalah menggunakan Media Sosial (eg. facebook). Saya selalu mendorong dalam semua postingan saya di sosial media tentang pentingnya memberi impact yang lebih besar dari usaha yang kita miliki. Maka, dalam sistem pengembangan mitra juga, saya memberikan success fee sebesar 10% dari nilai paket pada mitra yang bisa merekomendasikan teman atau kenalannya. sehingga MISTERBLEK tidak sekedar tempat “ngupi’ juga memberi impact lebih luas. Supaya tak gampang tergilas, terutama oleh teknologi, tak ada lain memang kita harus berkawan dengan teknologi. Kebanyakan mitra kami yang wilayahnya sudah ada Go-jek, justru memanfaatkan fasilitas Go Food untuk mendorong jumlah penjualan. atau promosi kalau dulu masih cetak-cetak brosur, sekarang cukup agak gencar di facebook, Instagram atau Twitter. Saya kira ini berlaku pada usaha apapun. Media sosial bila dimanfaatkan dengan baik juga akan memberi impact yang baik.     Saya pernah menulis di blog saya sebuah kisah nyata tentang seorang mahasiswa yang membesarkan usaha kateringnya dengan memanfaatkan sosial media : http://basri-adhi.blogspot.co.id/2016/05/bukan-pithecantropus-erectus.html  mungkin ini bisa menjadi inpirasi. Demikian bu Etyk, Bapak dan Ibu semua…

Moderator : Seruuu sekali kulwa malam ini Pak Basri, masih banyak pertanyaan dr teman 2 grop, tetapi karena keterbatasan waktu pertanyaan kami simpan akan kami sampaiakan dilain waktu.

Narasumber : Baik bu. Senang bisa berbagi cerita dengan bapak dan Ibu sekalian.

Moderator   Kesimpulan :
Dalam membangun bisnis harus menemukan pola pemasaran yang tepat, salah satunya dengan pola keagenan, pola keagenan dapat mengakomodir konsumen pada beberapa tempat dapat menikmati dalam waktu bersamaan. Role model yang tepat merupakan salah satu syarat Dalam membangun pasar franchise yang kuat.
Inovasi Dalam perkembangan bisnis perlu dilakukan Dalam menaikkan pangsa pasarMitra UMKM sangat memerlukan lembaga yang dapat memberikan coaching untuk pengembangan bisnis. Pemilihan pasar memerlukan strategi yang tepat dan menyesuaikan dengan kekuatan modal yang dimiliki.
Moderator :  Sebelum kami akhiri, Pak Basri bisa menyampaikan sepatah dua patah kata utk menutup kulwa malam ini Bapak

Narasumber :  Baik bu Etyk. Mewakili teman-teman UMKM, terkait dengan Pendampingan UMKM, hal yang banyak perlukan selain akses pendanaan (yang masih menjadi masalah klasik) adalah Hal Pengelolaan Uang Hasil Pinjaman untuk mendorong usah berjalan lebih lain, lebih memberi “impact” yang luas, juga Hal Literasi Diversifikasi Investasi yaitu bagaiman uang dihasilkan terus berkembang menjadi asset-asset yang produktif dan memberi impact yang makin besar lagi. Cukuplah para pelaku UMKM di masa depan tak lagi tertipu model-model Koperasi Langit Biru dan Koperasi Pandawa.   Terimakasih sudah bersedia mendengar cerita saya, semoga ada manfaatnya untuk kitasemua.

Moderator :  Saya ucapkan terimakasih banyak kepada Bapak Basri Adhi yg telah memberikan kesempatan kita utk belajar & menjadi narasumber kami shg kami mendapatkan wawasan lebih baik & juga kpd Ibu Nina selaku founder KulWa Bapak, Ibu dan temen yang telah berpartisipasi Semoga Kulwa malam ini memberi manfaat dan kemajuan utk kita semua Mohon maaf apabila ada kekurangan dan kesalahan.
Wassalamualaikum wr wb.

Moderator   : Wa’alaikum Salam.

 

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s