KulWA #20 “Mau Penjaminan atau Asuransi?”

WhatsApp Image 2017-09-14 at 8.00.06 AM

Kuliah Whatsapp Kamis, 14 September 2017 bertema “Mau Penjaminan atau Asuransi?”. Tema yang sangat menarik jika dilihat karena masih banyak masyarakat awam yang beranggapan bahwa Penjaminan sama dengan Asuransi. Materi kulWA kali ini akan membahas secara mendalam tentang Penjaminan sehingga diharapkan akan dapat memberi pemahaman lebih mengenai Penjaminan itu sendiri. Dalam materi ini, yang bertindak sebagai moderator adalah Saudara Ahmad Zarkasi (Kepala Kantor Unit Pelayanan (KUP) Jamkrindo Bojonegoro) dan materi “Mau Penjaminan atau Asuransi sendiri dipaparkan oleh Bapak Achmad Sonhadji sebagai narasumber. Sedikit informasi mengenai pemateri pada kali ini :

Nama                                    : Achmad Sonhadji

Tempat/Tanggal Lahir     : Surabaya, 19 April 1965

Jabatan                                : Direktur PT. Jamkrindo Syariah

Pendidikan Terakhir        : Fakultas Ekonomi Universitas Brawijaya Malang

Beberapa Training dan Workshop yang pernah Beliau ikuti diantaranya :

  1. Sosialisasi dan Implementasi Ketentuan GCG (BPKP), 2013
  2. Seminar Nasional Audit, 2016
  3. Workshop Internal Audit The Most Necessary Profession to Enhance and Protect Organization Value (YPIA), 2016
  4. Working Level Council (The Korea Credit Guarantee Fund / KODIT), 2015
  5. AECM Annual Workshop Berlin (AECM), 2015
  6. Workshop Strategic Partnership (FKSPI), 2016

Selanjutnya, mari kita simak pemaparan dari Bapak Achmad Sonhadji

Assalamu’alaikum wr wb. Selamat malam semua.

Yang saya hormati bapak ibu direksi Perum Jamkrindo, para kadiv, para ka kanwil, para ka kanca, para ka kup dan seluruh member group ini, Pertama-tama marilah kita selalu memanjatkan syukur ke hadirat Alloh SWT yang sampai saat terus melimpahkan nikmat kepada sehingga malam ini kita bisa berdiskusi dalam forum kuliah WA yang dapat memberikan inspirasi kepada kemajuan Jamkrindo dan industri penjaminan secara umumnya. Salam dan sholawat juga tak lupa kita sampaikan juga kepada junjungan kita bersama Nabi Muhammad SAW.

Bapak Ibu dan saudara ku semua. Industri penjaminan saat ini cukup dkenal oleh masyarakat luas khususnya para pelaku ekonomi dan entitas pembiayaan di Indonesia, khususnya sejak UU no 1 tahun 2016 disahkan dan kemudian diikuti oleh terbitkan POJK nomor 1, 2, dan 3 tahun 2017 yang seluruhnya mengatur penjaminan. Memaknai pemahaman penjaminan baik dari UU maupun dari POJK, pada intinya bisnis penjaminan adalah bisnis yang mempunyai pangsa pasar hampir tidak terbatas. Dikatakan bahwa lembaga atau perusahaan penjaminan adalah menjamin kewajiban keuangan Terjamin. Tidak aktivitas ekonomi dimanapun yang tidak menimbulkan kewajiban keuangan, baik yang berjangka pendek maupun jangka panjang. Namun seluruhnya belum dapat kita kelola dengan optimal. Salah satunya penyebabnya adalah banyak dari kita tidak dapat membedakan dimana pasar penjaminan dan dimana pasar asuransi. Seringkali kita atau masyarakat kita mencampur adukkan keduanya sehingga pasar penjaminan itu sendiri menjadi kabur dan sulit untuk diraih. Ditambah lagi kondisi bahwa kita semua lebih suka menjamin produk2 yang otomatis atau CAC. Tampak bahwa itu enak dan menjadi cashflow, padahal belum tentu berakhir dengan positive net cash flow. Oleh karenya sangat penting bagi kita untuk membedakan dimana asuransi dan dimana penjaminan bergerak, karena sebenarnya keduanya mempunyai lahan yang berbeda, lahan masing-masing mempunyai oportunity tinggi, meski dalam beberapa kasus kecil terdapat irisan pasarnya. Saya yang sudah 27 tahun hidup di industri penjaminan, inshaa Alloh dapat memperjelas ghiroh penjamina itu, sehingga kita dapat dengan mudah melangkah mengais produksi disana. Tantangan yang sulit adalah mengedukasi masyarakat luas khususnya entitas lembaga keuangan yang memberikan pembiayaan, karena bagi mereka pada akhirnya adalah bertujuan untuk menutup risiko apabila terjadi kerugian. Saya buka kuliah WA ini dengan uraian singkat tersebut diatas. Silahkan jika ada yang berpendapat lain atau berdiskusi tentang hal ini…. silahkan.

Moderator : Mungkin sebagai pemantik bapak, Sampai saat ini Bapak, sebagian masyarakat masih beranggapan bahwa kegiatan usaha menjamin, menanggung dan sebagainya merupakan bagian dari produk-produk bidang asuransi. Hal ini terjadi karena asuransi telah lebih dulu dikenal oleh masyarakat, ditambah pula dengan adanya kemiripan antara asuransi dan penjaminan. Bagaimana tanggapan Pak Son atas mindset tersebut?

Industri Penjaminan memang masih relatif baru dibanding dengan asuransi. Jadi wajar jika masyarakat memandangnya begitu. Tugas kita semua untuk memberikan pemahaman yang benar. Bagaimana caranya, dengan memajukan industri penjaminan di semua sektor ekonomi. Kemiripan memang ada, tetapi jika kita mendalami kedua hal tersebut adalah sangatlah berbeda. Asuransi lebih kepada mitigasi risiko atas objek yang terkait dengan kredit. sedangkan penjaminan adalah penjaminan atas kewajiban keuangan.

Sejak tahun 1970, di Indonesia mulai dimunculkan bisnis penjaminan, yaitu dengan didirikannya Lembaga Jaminan Kredit Koperasi (LJKK) yang utama untuk menjamin kerugian yang timbul atas kredit program Pemerintah yang disalurkan oleh Bank melalui koperasi untuk kepentingan para petani. Sedangkan bisnis asuransi  dimulai sejak tahun 1853 oleh Pemerintah Kolonial Belanda dengan nama Bataviasche Zee End Brand Asrantie Maatschappij (BZEBAM) dengan perlindungan utama terhadap resiko kebakaran dan asuransi pengangkutan.

Penjaminan diberikan oleh Pemerintah kepada Bank untuk memberikan kepastian bahwa apabila para petani tidak dapat memenuhi kewajiban keuangan atas kreditnya maka LJKK akan menutup kewajiban petani tersebut, sehingga Bank tidak terganggu likuitditas dan NPL-nya. Keputusan menjamin atau tidak menjamin diterbitkan sebelum petani menerima pencairan atau realisasi kreditnya, sehingga Lembaga Penjaminan wajib mengetahui atau mengenal terlebih dahulu siapa atau petani mana yang akan dijamin. Pada masa LJKK, dimana seluruh kerugian yang timbul akan secara langsung ditanggung oleh Pemerintah, maka seluruh petani yang menerima kucuran kredit dari Bank juga otomatis dijamin oleh LJKK. Dalam hal ini tampak bahwa bisnis penjaminan akan bergerak untuk menutup seluruh kewajiban financial (kredit) para petani, apabila para petani tersebut tidak dapat memenuhi kewajiban financial-nya sesuai dengan jangka waktunya, sepanjang hal tersebut disebabkan oleh “ketidak-mampuan petani” tersebut, bukan oleh yang lain. Berbeda dengan bisnis asuransi, yang bergerak bukan karena “ketidak-mampuan petani”, bisnis asuransi akan bergerak apabila lahan petani rusak karena gempa atau banjir, atau diserang oleh hama penyakit, atau oleh kebakaran, sehingga menyebabkan petani tidak dapat mengelola usaha pertaniannya, dan selanjutnya tidak dapat memenuhi kewajiban keuangannya. Disinilah peran perusahaan asuransi sangat diperlukan, karena barang atau objek yang dikelola atau disimpan menjadi hilang atau rusak sehingga menjadi barang yang tidak berharga atau harga-nya turun, maka perusahaan asuransi mengganti barang atau objek tersebut.

Moderator : Sudah mulai kelihatan benang merahnya bapak mengenai perbedaannya. Namun, apakah boleh penjaminan mengcover meninggal dunia atau PHK dalam kredit multiguna ? Bagaimana membedakan dengan asuransi atas penjaminan kredit multiguna dengan risiko yg sama ?

Penjaminan itu untuk menjamin kewajiban finansial yang wanprestasi, apapun penyebabnya. Tentunya tidak termasuk fraud atau adanya niat jahat dan juga tidak diikutinya kesepakatan yang dibuat. Selain itu, kematian juga tidak di cover karena bukan bagian dari penjaminan. Tetapi itu bisa masuk asal itu menjadi penyebab dari tidak terpenuhinya kewajiban finansial. Kredit tertunggak dapat disebabkan oleh beberapa hal, diantaranya Terjamin meninggal. Jadi jika Penjaminan sudah masuk, maka asuransi bisa tutup karena Penjaminan all risk sedangkan asuransi hanya satu sebab, yaitu kematian, jika itu life insurance.

Moderator : Brarti bisa dikatakan bahwa nantinya penjaminan pun bisa masuk utk mencover kematian ya pak apabila penyebab tertunggak adalah terjamin meninggal?

Bahasanya bukan mencover kematian, itu yang kurang tepat. Kita tidak mengcover kematian, kita mengcover kredit macet, salah satu penyebabnya bisa karena kematian. Hal diatas tampak sama, tapi maknanya sangat berbeda. Kita sama sekali tidak masuk ranah asuransi, tapi jika kita masuk di ranah penjaminan maka otomatis menutup juga kepentingan asuransi tersebut. Penjaminan mencover kewajiban keuangan pelaku ekonomi yang wanprestasi pada saat jatuh temponya. Disisin lain, dapat dikatakan Penjaminan adalah berangkat dari kepentingan dan menyatu dengan Terjamin, dan oleh karenanya Penjaminan dapat dikatakan sebagai subsitusi dari colateral yang umumnya harus tersedia sebelum Terjamin menerima pembiayaan dari Entitas Bisnis. Artinya, fungsi penjaminan berjalan terlebih dahulu sebelum Entitas Bisnis menyatakan akan membiayai atau memberikan pembiayaan kepada Terjamin. Dapat juga dikatakan Penjaminan ini diperlukan oleh Entitas Bisnis agar proses bisnis yang dijalankan telah memenuhi aturan dan ketentuan sebagaimana yang telah diatur dalam standar kerja (SOP) Entitas Bisnis yang bersangkutan.

Berbeda dengan bisnis Asuransi, yang berangkat dari kepentingan Entitas Bisnis itu sendiri, bukan kepentingan nasabah atau pelanggannya (Terjamin). Bisnis asuransi diperlukan oleh Entitas Bisnis lebih kepada mitigasi risiko masa depan, dan tidak terkait dengan kepentingan nasabah. Bagi nasabah tidak ada asuransi akan lebih menguntungkan karena akan menurunkan beban operasional

Moderator : Dapat dikatakan bahwa secara fungsi pun sudah beda jauh antara penjaminan dengan asuransi.

Penjaminan mempunyai 4 tahapan pekerjaan yang tidak dapat dipisahkan yaitu :

  1. Pemberian persetujuan dan Penerbitan Sertifikat Penjaminan (SP).
  2. Monitoring atau pengendalian atau pendampingan Terjamin.
  3. Proses Klaim.
  4. Penarikan Subrogasi.

Kita selama ini melupakan fungsi yang sangat penting bagi suksesnya usaha Penjaminan, yaitu fungsi kedua. Fungsi pertama dan kedua adalah hak Penerima Jaminan dan ini saja sudah sangat membedakan dengan asuransi yang istilahnya “Beli Putus”. Jika fungsi kedua kita lakukan dengan baik, maka klaim akan dapat ditekan dan yang lebih penting, para Terjamin menjadi lebih handal dalam berusaha dan dapat naik kelas.

Moderator : di lapangan fungsi monitoring memang sering dilupakan karena mungkin teman teman di lapangan fokus ke tahapan pertama dan tahapan kedua. Saya tertarik dengan istilah “beli putus” di konsep asuransi bapak. Apakah yang dimaksud ada kaitannya dengan subrogasi pak?

Beli putus, ya setelah deal dan terbit polis asuaransinya yang sudah ditinggal oleh salesnya asuransinya. Kita tidak diurus dan kalaupun klaim, kita mengurusnya sendiri. Kalau penjaminan harus kita urus sejak Terjamin tidak bisa apa-apa sampai Terjamin menjadi besar. Fungsi itu sekarang ada di pemeringkatan dan pendampingan harusnya.

Moderator : Bersyukur saya bisa mengabdi di Jamkrindo bapak, karena tugas Jamkrindo yang memang sangat mulia, mengantarkan Terjamin menjadi besar. Kalau boleh flashback ke bahasan tentang multiguna tadi pak, Penjaminan Multiguna adalah menjamin Terjamin yg Bergaji menjadi Tidak Bergaji, bilamana hal ini yg kita masukkan di PKS dg Bank akan lebih menarik ya pak Son. Tentu saja kematian salah satu sebab saja yg mungkin terjadi. Kita batasi hal2 yg membatalkan atau penolakan klaim yaitu jika bank lupa motong gaji, jika gaji sebenarnya masih lancar. Yang perlu diperhatikan bagaimana dg prinsip subrogasi nya ya pak son ? Krn penjaminan multiguna ini akan memperbesar OS piutang subro pdhl tidak potensial.

Untuk hal tersebut, kelemahan kita saat ini adalah kita tidak tahu catatan yang sebenarnya tentang kredit macet itu. Tapi jika itu adalah kredit multiguna yang berasal dari pegawai dengan gaji tetap, maka sepanjang pegawai tersebut tidak di PHK dan tidak meninggal, maka seharusnya gajinya bisa dipotong. Itu yang harus diluruskan dengan pihak bank. Namun saat ini ada bank2 yang bukan bank pembayar gaji tapi juga menyalurkan kredit dengan pola potong gaji. yang terakhir ini yang risikonya tinggi. Tapi seharusnya kita tidak boleh fokus di kredit multiguna. boleh dijadikan sampingan saja. yang paling penting adalah menjamin usaha-usaha produktif.

Oleh karena itu, bagi perkuatan Perekonomian Nasional, peran bisnis penjaminan menjadi jauh lebih penting dibanding bisnis asuransi. Hal ini dikarenakan peran bisnis penjaminan yang diciptakan untuk membangun, memback-up dan membesarkan pelaku ekonomi yang saat ini di Indonesia jumlah nya sangat banyak. Selain itu, fungsi monitoring dan pengendalian yang selalu menempel di bisnis penjaminan, menjadikan Entitas Bisnis Penjaminan sangat dibutuhkan oleh para  pelaku ekonomi tersebut, sehingga mereka dapat dikelola usahanya dengan baik. Dalam hal ini, Entitas Bisnis Penjaminan mempunyai kewajiban melakukan pembinaan dan pendampingan secara langsung kepada pelaku ekonomi yang dijamin sedemikian rupa sehingga pelaku ekonomi yang dijamin tersebut dapat memenuhi seluruh kewajiban keuangan kepada pihak-pihak yang terkait dengan usahanya. Peluang membesarkan bisnis penjaminan masih sangat besar, Penjaminan Non Bank harus menjadi fokus kita, karena faktanya pasar Penjaminan Non Bank adalah tidak terbatas jika dibandingkan dengan Penjaminan Lembaga Keuangan Perbankan.

———-SESI TANYA JAWAB———-

Pertanyaan dari Bapak M. Rinanto Deddy (Kepala Cabang Bandung)

Q : Tahun 2018 adalah batas akhir masa toleransi kepada perusahaan asuransi yang masuk ke dalam ranah industri penjaminan. Namun demikian, sepengetahuan saya, ada perusahaan asuransi yang malah berkeinginan meningkatkan premi asuransi dgn memperkuat penjaminan kredit kepada umkm. Bahkan, ada yang membentuk unit kerja/divisi suretyship dan penjaminan kredit. Bagaimana pandangan dan pendapat Bapak serta cara mensikapinya?

A : Ya memang kita perlu melakukan koordinasi dan sosialisasi bersama OJK sebagai pengawal dan pengawas lembaga keuangan. Ini memerlukan effort kita yang memang tidak sedikit, industri asuransi harus sudah memulai menyesuaikan dengan UU tsb, dan oleh karenanya diperbolehkan mereka membentuk anak perusahaan di bidang penjaminan. Yang penting adalah jika mereka ingin masuk di sektor penjaminan, maka aturan dan regulasinya harus mengikuti aturan dan regulasi yang sudah digariskan dalam UU dan POJK. Dan ini adalah tugas Asippindo untuk mengawalnya. dan yang paling penting adalah bagaimana kita meningkatkan pelayanan kita sehingga industri penjaminan betul-betul menjadi industri yang dapat memenuhi kebutuhan para pelaku bisnis, sehingga betul2 dapat dirasakan kehadiran penjaminan ini.

Pertanyaan dari Bapak Wakhyu Hidayatulloh (Kakanwil Palembang)

Q : Mengantisipasi perubahan UU penjaminan, apakah dalam pks pks baru khususnya penjaminan multiguna apakah covernya dapat diganti menjadi Risiko Yg Dijamin adalah Kegagalan Finansial Terjamin ? Bagaimana hubungan Kegagalan Finansial ini dgn aturan BI ?Apakah dalam hal kegagalan finansial dgn kondisi meninggal harus menunggu kol 4 Atau 5

A : yang kita jamin adalah kewajiban finansial dari terjamin, jika terjamin meninggal maka sumber pendapatan yang digunakan untuk memenuhi kewajiban finansial tersebut adalah putus. Putusnya sumber keuangan yang digunakan untuk memenuhi kewajiban finansial dapat secara langsung dinyatakan kol 4 atau 5 oleh banknya. Ini sesuai dengan aturan atau SE BI juga pak wakhyu. jadi tidak perlu menunggu kol 4 atau kol 5. sekarang meninggal besok boleh di kol 4 atau 5 kan. dan oleh karenanya hak klaim atas penjaminan sudah timbul. Coverage risiko yang dijamin adalah kegagalan kewajiban finansial. dari dulu begitu, hanya mungkin menggunakan istilah kredit macet. sekarang menggunakan istilah kegagalan pemenuhan kewajiban finansial.

Pertanyaan dari Bapak Winddy Dwi Cahyo (Kabag Divisi Sistem Resi Gudang)

Q : Penjaminan dalam kedudukannya sebagai perjanjian yang bersifat accesoir akan memperoleh akibat-akibat hukum tertentu:

  1. Adanya perjanjian penjaminan tergantung pada perjanjian pokok;
  2. Jika perjanjian pokok itu batal maka perjanjian penjaminan ikut batal;
  3. Jika perjanjian pokok itu hapus, perjanjian penjmainan ikut hapus;
  4. Dengan diperalihkannya piutang pada perjanjian pokok, maka semua perjanjian-perjanjian accesoir yang melekat pada piutang tersebut akan ikut beralih

Pertanyaan :

  1. Jika perjanjian pokok tidak batal dan tidak hapus tetapi tidak pernah dilaksanakan oleh Terjamin dan Penerima Jaminan apakah Penjaminan akan gugur dengan sendirinya mengingat objek perjanjian ada tetapi objek kegiatannya tidak terjadi?
  2. Ketika klaim sudah dibayar maka sejumlah klaim yang dibayar menjadi piutang subrogasi, mengapa selama ini tidak diikuti dengan peralihan hak tanggungan atas agunan dari Penerima Jaminan kepada Penjamin?

A : Pertama, betul sekali mas windy, bahwa akad penjaminan adalah accersories dari akad pokoknya. jika pokok hilang maka accesoriesnya otomatis hilang. jika akadnya tidak dilaksanakan baik oleh terjamin maupun oleh penerima jaminan maka akad itu tidak artinya. artinya juga tidak ada penjaminan. misalnya akad kredit sudah di ttd 100 juta antara terjamin dengan penerima jaminan. tetapi terjamin tidak pernah menggunakan duit itu. tidak pernah dicairkan maka objek penjaminanya jadi tidak ada, krn kreditnya juga tidak pernah ada. artinya tidak kewajiban finansial yang timbul atas hal tersebut. yang kedua, setiap klaim yang dibayarkan oleh penjamin maka status piutangnya pindah menjadi piutang penjamin. betul juga mas windy. pasalnya knp kok tidak diikuti dengan peralihan hak tanggungan? saat kita menjamin kurang dari 100% maka bank masih ada sebagian haknya atas angsuran setelah klaim kita bayar. dalam hal ini hak eksekusi atas agunan masih ada di bank karna akad pokoknya adalah antara bank dengan nasabahnya atau terjamin. Kondisi ini berbeda dengan jika kita menjamin 100% yang seluruh tunggakannya kita tutup 100% sehingga bank tidak mempunyai hak lagi. Seharusnya untuk kondisi ini selalu diikuti dengan peralihan hak tanggungan, namun untuk saat ini apakah kita sanggup mengelola peralihan hak tanggungan tersebut? bagi bank sebetulnya tidak ada ruginya. jika kita penjamin punya kemampuan untuk itu, ya bisa saja. Harusnya memang diikuti dengan peralihan hak tanggungan. tapi perlu diketahui, pengambilan agunan untuk dijual itu bukan pekerjaan mudah. Aspek hukumnya sangat kompleks. Dan kita saat ini tidak mempunyai sdm yang handal untuk itu. oleh karena kita mengkuasakan pengurusannya kpd pihak bank. Salah satu cara yang saat ini sedang ditempuh adalah mendirikan aset manajemen untuk mengelola aset tersebut secara bersama antara penerima jaminan dan penjamin. Sebagai tambahan info, Jamsyar sedang mendirikan perusahaan untuk mengelola aset agunan tersebut yang inshaa Alloh tahun ini berdiri. Property Asset Pembiayaan Bermasalah.

Pertanyaan dari Ibu Wulanita (Divisi Pemeringkat UMKM & Konsultasi Manajemen)

Q : Mitra kreditur kita, karena memang kepentingannya adalah mitigasi risiko, kadang sulit membedakan penjaminan dan asuransi.  Ini PR besar kita sebagai insan penjaminan utk memberikan edukasi pada para lender. Namun utk kepentingan pasar, bagaimana secara cepat kita dapat memberikan pemahaman yang cukup bagi mitra kreditur utk perbedaan tersebut, dan memilih penjaminan sebagai solusi yang terbaik?

A : yang harus kita sampaikan terus adalah penjaminan itu munculnya sebelum akad pembiayaan, karena penjaminan ini adalah salah satu syarat akad kredit di bank. jaminan utama adalah feasiblenya proyek. Jaminan tambahannya adalah aset terjamin. nah penjaminan ini adalah asetnya Terjamin. Namun demikian, penjaminan ini juga bisa dipakai oleh bank sebagai mitigasi risiko, knp? karena sifat penjaminan yang likuid dan sesuai SE BI Unconditional. Sedangkan asuransi diadakannya setelah kredit cair. Kredit cair digunakan untuk bangun gedung, maka gedung tsb diasuransikan kerusakan atau kebakaranya. Jadi sifat penjaminan itu jauh lebih luas dibanding dengan asuransi. dan di asuransi banyak persyaratan yang harus dipenuhi karena terkait dengan objek barangnya. sedangkan penjaminan unconditional

Penjaminan adalah berangkat dari kepentingan dan menyatu dengan Terjamin, dan oleh karenanya Penjaminan dapat dikatakan sebagai subsitusi dari colateral yang umumnya harus tersedia sebelum Terjamin menerima pembiayaan dari Entitas Bisnis. Artinya, fungsi penjaminan berjalan terlebih dahulu sebelum Entitas Bisnis menyatakan akan membiayai atau memberikan pembiayaan kepada Terjamin. Dapat juga dikatakan Penjaminan ini diperlukan oleh Entitas Bisnis agar proses bisnis yang dijalankan telah memenuhi aturan dan ketentuan sebagaimana yang telah diatur dalam standar kerja (SOP) Entitas Bisnis yang bersangkutan. Berbeda dengan bisnis Asuransi, yang berangkat dari kepentingan Entitas Bisnis itu sendiri, bukan kepentingan nasabah atau pelanggannya (Terjamin). Bisnis asuransi diperlukan oleh Entitas Bisnis lebih kepada mitigasi risiko masa depan, dan tidak terkait dengan kepentingan nasabah. Bagi nasabah tidak ada asuransi akan lebih menguntungkan karena akan menurunkan beban operasional.

Pertanyaan dari Ibu Yuli (Kepala Cabang Purwakarta)

Q : Menarik bahwa pengendalian kredit yg dijamin adalah tugas Penjamin. Ini sekaligus upaya mendampingi UMKM agar mereka khusnul khotimah kreditnya dan berkembang usahanya. Menjadi masalah kemudian, karena lender terus menekan IJP, sementara untuk mengendalikan kredit, Penjamin juga perlu biaya. Bagaimana menyikapi hal ini?

A : fungsi pengendalian adalah untuk menekan klaim. kita sering kaget kagetan dengan datangnya klaim, itu karena kita selama ini setelah menerbitkan SP, pikiran kita adalah untuk menerbitka SP lagi. hampir semua SDM kita pakai untuk menerbitkan SP, atau untuk bagaimana memperoleh penjaminan sebanyak2nya. Jika fungsi pengendalian dijalankan maka terjamin akan terbantu dalam mengelola usahanya, jika ada masalah maka bisa kita luruskan, akhirnya terjamin chusnul chotimah atau lunas kalau tidak membesar dan kemudian kita jamin lagi dgn plafon yang lebih besar. biayanya dari mana? ya dari klaim yang ditekan tersebut. ada pengalihan struktur biaya yang tadinya dari klaimnya besar, menjadi mengecil, dan biaya pengendaliannya menjadi meningkat.

Moderator : Jadi bapak, dengan banyaknya penjaminan yg CAC dimana nasabah tdk mengetahui kreditnya dijamin, bagaimana mekanisme monitoring n kegiatan pengendalian yg efektif n efisien utk mengantisipasi agar kredit yg dijamin tidak masuk kategori NPL dgn mempertimbangkan cost n benefit n kesediaan SDM yg ada

Kita punya record sangat bagus, yaitu mempunyai terjamin2 handal produksi kita. Ekonomi semakin kuat dan akhirnya meningkatkan pendapatan penjaminan juga. CAC diciptakan adalah untuk terjamin-terjamin yang mempunyai proses bisnis relatif sama dan nilai kreditnya relatif terukur oleh penjamin. cara monev nya memang berbeda. monevnya harus dilakukan secara berkala dengan mengamati jumlah klaimnya apakah beruntun di satu daerah atau di satu bank atau tidak. jika beruntun, maka ada yang salah dengan bank penyalur dan perlu dievaluasi bank penyalurnya. memang untuk  menghindari moral hazard ada bank yang minta terjaminya tidak tahu. meski hal ini sebenarnya tidak sesuai dengan fungsi penjaminan sebenarnya, maka ini dapat tetap kita lakukan, karena bank memandang kita penjamin lebih kepada sebagai mitigasi risiko. seharusnya fungsi penjaminan itu adalah melekat pada terjamin, sehingga tidak mungkin terjamin tidak mengenal penjaminnya. Inilah yang saya sampaikan bahwa fungsi penjaminan adalah jauh lebih luas dibanding asuransi. kita bisa sebagai colateral substitution tapi juga bisa sebagai mitigasi risiko masa depan. Jadi tidak ada alasan bagi kita untuk tidak dapat memasarkan produk penjaminan. Cara evaluasi CAC dan CBC adalah berbeda. jika CAC penjaminannya rombongan maka monevnya ya rombongan. CBC per terjamin maka monevnya yang per terjamin. Satu hal yang harus segera kita tingkatkan dengan adanya fintech, yaitu pelayanan kita sebagai perusahaan penjaminan. Di Jamsyar saat ini sudah 4 penerima jaminan yang sudah bisa input permohonan dan print SP sendiri. tidak perlu kita yang print. tidak perlu kertas kita dan ini trend ke depan harus kita lakukan.

Pertanyaan dari Bapak Muhlison (Kakanwil Banjarmasin)

Q : Selamat malam Pak Duo Ahmad, terima kasih atas kesempatannya.  Menghadapi berakhirnya masa transisi UU Penjaminan pada akhir tahun 2018, langkah apa saja yang perlu disiapkan oleh Industri Penjaminan agar siap menerima limpahan bisnis yang mungkin akan dilepas oleh industri asuransi? Terutama dalam kesiapan kapasitas penjaminan, terkait dengan keyakinan Pak Son bahwa UU Penjaminan akan dapat dilaksanakan dg baik saat masa transisi berakhir. Terima kasih.

A : tidak ada kata lain selain 1. kapabilitas kita semua sebagai pelaku industri penjaminan dan 2. peningkatan kecepatan dan keakuratan pelayanan penjaminan atau pemanfaatan IT. DIg-G adalah tidak bisa ditawar lagi, harus sekarang diimplementasikan, bagaimana record terjamin sudah ada semua di database kita dan swaupdate. bagaimana penerima jaminan minta sekarang dan bisa terbit sekarang karena IT ini sudah bukan barang mewah, sudah harus  menjadi tulang punggung kita. Di Jamsyar, sebelum terjamin mengajukan permohonan penjaminan, mereka harus jadi rekanan dengan melakukan daftar entry profil mereka sendiri, dan untuk selanjutnya hanya masukin username dan password. Penerima Jaminan juga begitu, cukup entry beberapa inputan data, maka data terjamin sudah terpanggil. sehingga untuk mengajukan penerbitan SP cukup di komputernya penerima jaminan. Sebelum SP tercetak dalam bentuk pdf, penerima jaminan harus membayar ijp ke virtual accoun yang ditunjuk, selesai bayar otomatis pdf SP tercetak dengan sendiri. Fintech seperti inilah yang harus diimplementasikan sekarang. jika tidak kita semua keteter, dan itu menurunkan service level kita.

———KESIMPULAN———–

Kita semua harus move on. Percepatan perkembangan Jamkrindo belum diimbangi dengan peningkatan pemahaman bisnis penjaminan oleh sdm pelaku industri penjaminan. UU no 1 tahun 2016 jangan disia-siakan. sekali pelaku bisnis kecewa maka mengembalikannya adalah sangat sulit. maka tidak ada kata lain selain kita semua harus selalu mau berubah, khususnya atas pelayanan dan pemenuhan kebutuhan pelaku bisnis atas bisnis penjaminan. kita menjamin kewajiban finansial yang ada disemua sektor usaha. saya yakin Jamkrindo menjadi jauh lebih besar, apalagi kita punya pak Amin Mas’udi SDM terbaik saat ini. Ayooo kita dukung beliau.

Terima kasih temen2 semua atas sharing knowledgenya. semoga kita semua sehat dan sukses selalu.

———-TAMBAHAN DARI DIREKTUR BISNIS PENJAMINAN———

Banyak hal yg sudah disampaikan Pak Son, sangat baik untuk kita jadikan pembelajaran bersama. Tidak kalah penting adalah bagaimana kita terus berupaya meningkatkan value dari industri penjaminan. Banyak hal2 bias yg terjadi di lapangan khususnya antara Penjaminan dan Asuransi, tetapi UU adalah UU, siapapun yg melanggar akan ada Sanksi nya. Di UU Penjaminan jelas pasal ttg hal tsb, dengan wajah baru OJK saat ini kita punya harapan cerah atas implementasi UU Penjaminan secara konsewken.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s