KulWA #23 “Sukses Dengan Mantra Man Jadda Wa Jada”

WhatsApp Image 2017-10-04 at 18.00.32

Akbar Zainudin, lahir di Banyumas, Jawa Tengah, 7 Februari 1973. Pendidikan dasar dimulai dari MI Muhammadiyah Wangon dan melanjutkan nyantri selama 6 tahun di Pondok Modern Gontor Ponorogo dan lulus tahun 1991. Setelah mengabdi di Gontor setahun, melanjutkan program sarjana di UIN Jakarta. Pendidikan Pascasarjana diteruskan di Sekolah Bisnis Prasetiya Mulya Jakarta mengambil konsentrasi Manajemen Pemasaran. Sekarang ini sedang mengambil program Doktor Manajemen Sumber Daya Manusia (MSDM) Universitas Negeri Jakarta (UNJ).

Akbar adalah penulis buku laris Man Jadda Wajada. Sejak diterbitkan tahun 2010, buku ini sudah dicetak 13 kali. Diteruskan dengan buku Man Jadda Wajada 2, Hasanah Dunia Akhirat, 10 Jalan Sukses, Berwirausaha Modal Man Jadda Wajada, Ketika Sukses Berawal dari Pesantren, Man Jadda Wajada for Teen, dan UKTUB: Panduan Lengkap Menulis Buku dalam 180 Hari. Buku terbaru yang ditulis bersama 23 orang trainer dan motivator nasional adalah “BIG MOTIVATION: Inspirasi Sukses Para Santri”.

Akbar adalah trainer nasional dalam bidang motivasi, pengembangan SDM, kewirausahaan. Berbagai kalangan telah merasakan dahsyatnya Pelatihan Motivasi Man Jadda Wajada yang ia kembangkan, mulai dari kalangan Pemerintah, Swasta, hingga lembaga pendidikan. Akbar sekarang ini juga mengelola dua perusahaan yang dibangunnya, yaitu Man Jadda Wajada Education yang bergerak dalam bidang penyelenggaraan jasa konsutasi dan pelatihan SDM serta MJWBook, sebuah perusahaan penerbitan.

Moderator : Saat ini Pak Akbar Zainudin membantu Divisi Pemeringkatan UMKM & Konsultasi Manajemen untuk melakukan pendampingan Unit-unit usaha Pondok Pesantren, sebagai pilot project kegiatan pendampingan UMKM, dengan berfokus ke pondok pesantren di seputaran wilayah Banten. Demikian penjelasan singkat mengenai narasumber kita malam ini, sambil menunggu kehadiran Narsum untuk melanjutkan.

———-MATERI———-

Assalamualaikum. Alhamdulillah bisa bersilaturahim dengan Bapak Ibu sekalian. Saya mengucapkan terima kasih untuk kesempatan yang luar biasa ini. Perkenalkan saya Akbar Zainudin, penulis buku Man Jadda Wajada. Selain sebagai penulis, saya juga trainer dan coach bidang motivasi, pengembangan SDM dan kewirausahaan. Saya lahir di Banyumas, Jawa Tengah. Pendidikan menengah saya habiskan di Pondok Modern Gontor, Ponorogo Jawa Timur. Setelah itu, melanjutkan ke UIN Jakarta Fakultas Ushuluddin (Teologi). Lepas S1 dari “ilmu langit”, saya banting setir ke “ilmu bumi”, di mana saya mengambil Magister Manajemen di Sekolah Bisnis Prasetiya Mulya. Kemudian, karena saya banyak berhubungan dengan manajer SDM untuk masalah pelatihan, saya melanjutkan studi program Doktor Manajemen SDM di Universitas Negeri Jakarta.

Saya banyak berhubungan dengan pesantren. Saya melihat potensi besar pesantren dalam mengembangkan unit usaha. Mereka diuntungkan dengan captive market yang jelas. Semakin banyak santri, semakin besar potensi usaha yang mereka bangun. Berawal dari niat memajukan unit usaha pesantren inilah kita ketemu dengan Jamkrindo. Sekarang ini tim kita bersama tim Jamkrindo sedang melakukan mentoring dan coaching bisnis untuk unit usaha pesantren. Sebagai langkah awal, kita mulai dengan 4 pesantren di Banten hingga akhir Desember ini.

Pada kesempatan ini ijinkan saya  untuk membahas tentang salah satu “mantra” yang berasal dari pepatah Bahasa Arab yang sangat terkenal, yaitu “Man Jadda Wajada”. Kalimat ini bukan hadis, tetapi merupakan Pepatah berbahasa Arab yang artinya: “Siapa yang bersungguh-sungguh, ia akan berhasil”. Pepatah Arab ini bagi saya bukan lagi sekadar hapalan, tetapi sudah menjadi filsafat hidup yang melekat dalam setiap sendi kehidupan. Ketika kaki melangkah, setiap langkahnya berucap “Man Jadda Wajada”. Ketika tangan bergerak, setiap gerakannya membawa semangat Man Jadda Wajada. Mungkin Bapak Ibu pernah nonton film “The Three Idiots”. Ada satu kalimat yang selalu mereka katakan jika ingin semangat itu timbul atau saat menghadapi kesulitan, yaitu: “All izz well”. Kapanpun kesulitan menghadang, atau sedang mencari semangat, mereka meneriakkan kalimat itu. Ajaibnya, energi itu lalu hadir dan memberi semangat untuk mencari jalan keluar. Sebagai “mantra”, kalimat Man Jadda Wajada bukanlah kalimat biasa. Kalimat itu bisa menjadi “jangkar pengingat” saat kita berada dalam kesulitan, saat lelah mendera, atau saat kita hampir kehilangan harapan. Pun kalimat ini bisa mengusir “rasa malas” dari dalam pikiran kita. Karena malas sebenarnya permainan pikiran. Saat malas mengetuk pintu pikiran kita, tutup erat-erat dan ucapkan: “Man Jadda Wajada”.

Moderator : Wow, sungguh menarik ya Pak, bagaimana sebuah rangkaian kata-kata bisa memberikan efek yang dahsyat.

Pertanyaannya: Bagaimana mengimplementasikan Mantra Man Jadda Wajada dalam kondisi kerja?

Pertama, buat menyemangati diri sendiri. Saat terasa ada beban berat, ada target yang harus dicapai, ada masalah yang harus dicari jalan keluarnya, meneriakkan Man Jadda Wajada akan menjadi energi bagi kita untuk bangkit kembali. Kedua, buat memberi semangat untuk orang lain. Beri harapan dengan mantra Man Jadda Wajada, bahwa kalau kita serius, sungguh-sungguh pasti BISA! Nah, menjelang akhir tahun, biasanya kita dihadapkan dengan target tahunan yang harus kita capai. Apakah target ini bisa kita capai atau tidak, sangat tergantung keyakinan kita. Kalau kita yakin, lalu kita kerahkan semua sumber daya yang ada dengan penuh kerja keras, insyaAllah pasti bisa. Sebaliknya, ketika keyakinan itu hilang dalam diri kita, maka sudah hampir pasti kita tidak akan pernah bisa mencapainya. Hilangkan semua keraguan, karena keraguan ini awal dari kegagalan. Keyakinan awal kesuksesan. Percaya diri kita akan sangat berpengaruh terhadap orang-orang di sekitar kita, termasuk bawahan dan atasan kita. Kalau kita percaya diri, mereka juga akan ikut percaya diri. Kalau kita pesimis, mereka akan lebih pesimis. Saya selalu ingat adegan terakhir film “Titanic” (selain adegan dalam mobil di atas kapal ya, hehe..). Ketika Jake Dawson bilang sama Rose Bukater: “Jangan pernah berhenti berharap, walau kelihatannya sudah tidak ada harapan sekalipun”. Kita masih punya waktu. Dorong sampai batas akhir yang paling memungkinkan, hasilnya serahkan pada Tuhan. Upaya kita tidak boleh melemah, karena hasil tidak pernah mengkhianati upaya.

Moderator : Penyampaian yang luar biasa pak Akbar, sangat bermanfaat bagi kami semua disini. Perlu diketahui bahwa penghuni Grup ini mayoritas adalah Kepala Outlet Jamkrindo, dimana menjelang akhir tahun seperti ini dihadapkan pada pencapaian target perusahaan di sisa waktu yg sempit. Mungkin Pak Akbar punya saran bagaimana cara yg tepat dalam menerapkan Spirit Man Jadda Wajada dalam mencapai target atau tips2 memulihkan semangat dan konsentrasi kerja.

Target itu untuk ditaklukkan dan dikerjakan. Seringkali kita lebih banyak memikirkannya daripada mengerjakannya. Karena itu, diskusi boleh, tapi mesti lebih banyak actionnya. Actionnya juga mesti terukur. Sehingga kita bisa mereview mana yang berhasil dan mana yang belum.

 

———-SESI TANYA JAWAB———-

Pertanyaan dari Sdr. Rendy Rianda Mulia (Kepala Seksi Evaluasi dan Pengembangan UMKM)

Hasil tak mengkhianati upaya.

Mohon saran, bila upaya yg sdh kita lakukan kemudian tampak menjadi sia2, ketika kondisi berubah. Kebijakan berubah, suasana berubah, orang pun berganti. Apa yg bisa kita lakukan dan sikap bagaimana yg pas utk kondisi ini?

Wah, ini pertanyaan menarik sekali. Di dunia kerja, prestasi adalah politik terbaik. Kinerja akan menentukan siapa kita. Hal yang paling penting kita lakukan adalah bagaimana dalam situasi apapun kita tetap berprestasi dan berkinerja tinggi. Nah, bagaimana kalau situasi dan kondisi berubah? Orang, kebijakan, bahkan mungkin kepemilikan perusahaan? Di sinilah peran kita untuk bisa menyesuaikan diri dengan sebaik-baiknya. Alih-alih kita mengeluhkan orang-orang baru, kondisi baru atau situasi baru, lebih baik cepat-cepat kota menyesuaikan dengan perubahan tersebut. Orang-orang hebat di masa depan bukan orang yang paling pintar, tetapi orang yang paling bisa beradaptasi. Dinosaurus hancur bukan karena dia lemah, tetapi karena tidak bisa beradaptasi.

Tapi bagaimana dong mas Akbar, kalau saya sudah bekerja keras, tapi tidak dianggap? Pertama, kita harus punya idealisme bahwa kita kerja bukan untuk atasan kita. Kita kerja sebagai sarana kita berbuat baik dan bermanfaat bagi sesama. Ngga perlu marah kalau ngga pernah dipuji. Kalau sekali-sekali dipuji, anggap aja bonus. Kedua, kita kerja untuk mengembangkan diri kita. Semakin kita bertemu dengan tantangan dan kesulitan yang berat, semakin baik karena membuat kita lebih tangguh. Ketiga, kerja itu call, panggilan hati. Whatever the situation, mungkin ini misi hidup kita bersama Jamkrindo untuk membantu UMKM, membantu sesama, membantu bangsa Indonesia.

Pertanyaan dari Sdri. Wulanita Kuswotanti (Kepala Seksi Coaching Divisi Pemeringkat)

Menjalankan semangat man jadda wajada tentu saja lebih dari sekadar meneriakkan kalimat tsb. Dalam hidup, terkadang kita terlalu nyaman dengan kondisi kita saat ini. Misal, seseorang dengan jabatan tertentu merasa begitu nyaman sampai2 berpikir bahwa ini saja sudah cukup, tidak perlu bekerja lebih baik, lebih keras. Bukan berarti bahwa kita tidak boleh bersyukur atas apa yg dianugerahkan pada kita. Tapi terkadang, sikap terlalu nyaman ini menjadi ‘kerikil’ dalam pekerjaan tim karena sepertinya tidak ada motivasi untuk menjadi dan memberikan yg lebih baik. Bagaimana sebaiknya kita menyikapi sikap tsb?

Perlu kita bertanya pada diri sendiri, Tuhan menurunkan kita di dunia ini untuk apa? Kalau saya, untuk bermanfaat bagi sebanyak-banyaknya manusia. Maka hidup kita tidak boleh hidup yang biasa-biasa saja. Kalau kata Buya Hamka: “Jika kita hidup hanya sekadar makan, tidur, kawin, maka kita tidak berbeda dengan kambing”. Ketika kita sudah berprestasi, mendapatkan amanah, nyaman, lalu kemudian kita berhenti, maka kita sudah mendzolimi diri sendiri karena tidak memanfaatkan potensi yang kita miliki agar bisa bermanfaat lebih banyak lagi.

Perlu bertanya lagi kepada diri kita, apalagi yang bisa kita lakukan untuk memberi manfaat kepada banyak orang? Berhenti akan membuat kita tergilas dan mati. Terus bergerak, belajar lebih banyak, bekerja lebih keras untuk memberi manfaat lebih banyak. Kalau ada orang yang terlalu nyaman, mba Wulan. Tegur dia, terus katakan: “Hei, you can do more than this”. Jangan sia-siakan karunia Tuhan yang sudah diberikan kepada Anda.

Pertanyaan dari Bpk. Abdul Bari (Sekretaris Perusahaan)

Terimakasih Pak Akbar atas sharing sesionnya. Karena pendekatannya mantra, maka saya menyebutnya amalan2..istilah pesantren mah pasti familiar. Spirit upaya utk capai suatu tujuan dg philosophia mendasar yaitu pengabdian sbg Hamba Allah SWT. Yang ingin saya tanyakan, maaf kalau pertanyaan mendasar:

  1. Kesuksesan atas amalan ini berapa % atas dasar pengalaman/real conditian Bapak Akbar? Tentu sukses menurut ukuran Bapak
  2. Keyakinan amalan ini kalau diterapkan dilingkungan kerja apakah ada perbedaan antara private company n plat merah?
  3. Dlm kaitan hubungan sosial n agama..amalan ini sifanya universal kah?.dlm artian berlaku semua kepercayaan.

Wah, ini menarik Pak. Saya coba jawab satu persatu:

  1. Kesuksesan sebuah amalan sangat tergantung keyakinannya akan amalan tersebut. Misalnya, orang dikasih bacaan oleh Ustadz atau Kiai. Kalau dia percaya sepenuhnya dan dilakukan, biasanya prosentase keberhasilannya tinggi. Tapi kalau masih ada satu titik saja ketidakpercayaan, tidak berhasil. Ini yang disebut tangan Tuhan bekerja di luar nalar manusia. Kalau Ustadz Yusuf Mansur misalnya bilang shadaqah memperluas pintu rezeki, tergantung kepercayaan kita. Kalau percaya, maka akan terjadi. Simpulannya, berapa prosentase kesuksesan sebuah amalan berbanding lurus dengan tingkat kepercayaan kita.
  2. Sebenarnya, perbedaan antara perusahaan swasta dengan perusahaan negara saya melihat sekarang ini sudah semakin mendekat. Perusahaan negara juga sudah menerapkan penilaian kinerja yang lebih terukur. Kalau dulu, pegawai perusahaan negara memang kurang terpacu dan nyaman walaupun kinerjanya kurang karena tidak takut dipecat. Kalau sekarang, kan memungkinkan PHK kalau kinerjanya menurun. Dan amalan atau mantra atau filsafat hidup ini kan terkait mindset. Penerapan mindset positif diperlukan di semua perusahaan, baik swasta maupun perusahaan pemerintah.
  3. Saya kebetulan dulu belajar perbandingan agama. Setiap manusia mempunyai kebutuhan spiritual, yang itu dikaitkan dengan agama. Semangat hidup itu bisa berasal dari berbagai hal. Dan semangat hidup yang berasal dari ajaran agama, apapun agamanya adalah sumber semangat yang paling dalam, karena menyangkut keimanan. Kalau kita kerja kita anggap sebagai bentuk pengabdian seorang hamba kepada Tuhan, tentu akan memberikan efek motivasi dahsyat yang luar biasa. Jadi, semangat yang bersumber dari spirit keagamaan memang berlaku universal, ada di setiap agama.

Pertanyaan dari Bpk. Wakhyu Hidayatulloh (Kepala Kanwil II Palembang)

Bagaimana kita menanamkan dalam diri kita, akan kepercayaan atau keyakinan yg buat sehingga bisa membuahkan suatu keberhasilan dalam setiap aktifitas kita ?

Keyakinan itu mulai dari pikiran. Yang membuat kita tidak yakin, biasanya adalah karena terlalu banyak kekhawatiran; takut gagal, takut tidak sesuai konsumen atau atasan, takut jelek, takut salah. Ketakutan itu biasanya hanya ada pada pikiran. Jadi, pertama yang harus dilakukan adalah buang semua kekhawatiran. Kedua, seperti iklan sepatu, just do it. Kerjakan saja. Keberanian akan menentukan kualitas diri kita. Selama kita takut, ngga akan menghasilkan lebih baik. Orang yang selalu khawatir dengan risiko, tidak akan pernah maju. Ketiga, kalaupun salah, pasti ada cara untuk memperbaiki. Persiapkan semuanya, ambil risikonya, dan bersiaplah untuk sukses. Keempat, patri dalam pikiran bahwa kita akan sukses. Jangan pernah membuka sedikitpun celah dalam pikiran bahwa kita akan gagal. Kalau pikiran kita bilang akan berhasil insyaAllah akan berhasil. Tapi ketika sedikit saja terbersit kita gagal, maka itulah yang akan terjadi.

Pertanyaan dari Bpk. Muhlison (Kepala Kanwil VIII Banjarmasin)

Bisnis Penjaminan di Jamkrindo adalah bisnis risiko yang dalam proses keputusan penjaminannya dilakukan dengan analisa yang sungguh-sungguh dg harapan akan berhasil, artinya penjaminannya akan aman, tidak terjadi klaim. Kalau misalnya klaim itu terjadi juga atas penjaminan yang telah dilakukan analisanya dengan sungguh-sungguh, bagaimana penjelasannya dalam kaitan dg man jadda wajada?

Hidup ini butuh keberanian, tapi bukan asal berani atau ngawur. Keberanian kita berdasarkan risiko yang sudah kita perhitungkan, biasa disebut “calculated risk”. Kalau semua sudah diperhitungkan, ya sudah, biasanya kita putuskan dengan penuh keyakinan. Bagi yang muslim, setiap memutuskan, sila baca bismillah: “bismillah”, kita putuskan. Kalau di tengah jalan tidak sesuai rencana? Tetap berjalan, Pak. Pepatah lain mengatakan: “Apa yang tidak membuat kita mati, akan membuat kita jauh lebih kuat”. Kesalahan itu hal biasa, yang penting belajar dari kesalahan. Yang tidak boleh adalah melakukan kesalahan yang sama dua kali. Yang tidak boleh juga adalah dimarahi atasan karena melakukan kesalahan yang sama.

 

———-KESIMPULAN———-

Berdasarkan pemaparan serta jawaban yang telah di sampaikan oleh Bapak Akbar Zainudin ada beberapa poin penting yang dapat kita petik yaitu :

  1. Hasil tidak pernah mengkhianati upaya. Selagi kita masih punya waktu. Dorong sampai batas akhir yang paling memungkinkan, lalu serahkan hasilnya pada Tuhan. Upaya kita tidak boleh melemah
  2. Target itu untuk ditaklukkan dan dikerjakan. Seringkali kita lebih banyak memikirkannya daripada mengerjakannya. Karena itu, diskusi boleh, tapi mesti lebih banyak actionnya, namun action tersebut harus tetap terukur.
  3. Dalam menghadapi target pekerjaan yang diiringi perubahan – perubahan di sekitar kita, maka kita harus senantiasa mengembangkan diri agar kita dapat menyesuaikan diri dengan perubahan-perubahan yang ada.
  4. Penerapan mindset positif diperlukan di semua perusahaan, baik swasta maupun perusahaan pemerintah, bahkan pada seluruh aspek kehidupan
  5. Kesuksesan dimulai dari keyakinan yang terpatri kuat dalam benak kita, jangan membuka celah sedikitpun dalam pikiran bahwa kita akan gagal.
  6. Hidup butuh keberanian, namun dengan tetap memperhitungkan resiko-resiko apa saja yang dihadapi
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s