KulWA #25 “Pengalaman Pembiayaan UMKM”

WhatsApp Image 2017-10-18 at 18.50.40

Kuliah WhatsApp (KulWA) kali ini akan membahas tentang Pengalaman Pembiayaan UMKM. Materi ini akan disampaikan oleh Bapak Fikri Satriawan. Beliau adalah Wakil Pimpinan Wilayah BRI Pekanbaru. Berikut biodata Bpk. Fikri selengkapnya :

Nama : M. Fikri Satriawan

Tempat Tanggal Lahir : Tegal, 14 November 1970

Pendidikan : S1 Teknologi Industri Pertanian IPB (Bogor), S2 MM UGM Manajemen Stratejik

Riwayat Pekerjaan :

  1. 2016 – skrg : Wapinwil BRI Pekanbaru
  2. 2009 – 2016: Pinca BRI di 5 kota (Waikabubak, Prabumulih, Kisaran, Banda Aceh, Palembang A. Rivai)
  3. 2006 – 2008: Pincapem di 2 kota (Medan dan Surabaya)
  4. 2004 – 2005: Tugas belajar di MM UGM
  5. 2002-2003: Manajer Ops Kanca BRI Pontianak
  6. 1999-2002: AO BRI Serang
  7. 1997-1999: Staf Ops
  8. 1995-1997: Calon Staf BRI

———-MATERI———-

Assalaamu’alaikum wr wb. Selamat malam Bapak-bapak dan Ibu-ibu yg saya hormati. Perkenalkan saya Fikri, saat ini menjabat sebagai Wapinwil BRI Pekanbaru. Saya sudah 22 th berkarya di BRI. Kebetulan penugasan saya selama 22 th hampir semuanya di lapangan alias selalu di Kantor Cabang. Dari berbagai penugasan di Kantor Cabang tsb paling banyak saya bertugas sebagai tenaga pemasar, yaitu sebagai AO, Pincapem, Pinca dan Wapinwil Bisnis. Tentu saja sebagai pemasar, hal yg paling sering dihadapi dan dikerjakan adalah memasarkan sekaligus mengelola kredit. BRI merupakan salah satu bank yang menyalurkan kredit dari skala yg paling kecil yaitu kredit mikro sampai kredit dengan skala besar yaitu kredit korporasi. Namun demikian tetap saja BRI lebih dikenal sebagai rajanya kredit mikro. Selama menjadi tenaga pemasar kredit yg saya kelola adalah kredit UMKM. Saya mulai menggeluti bidang kredit justru dari kredit kecil (ritel) dan bukan kredit mikro karena bertugas sebagai AO di Kantor Cabang sampai dg menjadi Pincapem. Namun demikian seiring berjalannya waktu dan saat menjabat sebagai pinca, saya mulai mengeloka kredit mikro karena membawahi BRI Unit.

Dalam mengelola kredit mikro inilah banyak ditemui hal-hal khas yang mungkin tidak ditemui di bank-bank lain yang membuat sampai saat ini BRI tetap paling unggul di kredit mikro. Satu hal yg membedakan BRI Unit dg perbankan lain dlm melayani kredit mikro adalah pendekatan utamanya bukan dari sisi financial semata melainkan dari aspek sosiologis. Adapun prinsip2 yg dijalankan dalam pengelolaan BRI Unit antara lain Demand Driven, Accessibility, simplicity, transparency, cost recovery dan sustainability. BRI unit juga dijalankan dengan mengedepankan Community Banking. Untuk mendukung community banking pernah disyaratkan bahwa seluruh pegawai BRI Unit harus tinggal di kecamatan yg sama dg kantor BRI Unit. Memang saat ini syarat ini sdh tidak ada lagi, namun demikian kebijakan untuk menempatkan pegawai sesuai tempat asalnya akan diberlakukan lagi karena terbukti sangat efektif. BRI Unit dibuka di banyak tempat tersebar sampai pelosok. Ini bertujuan untuk memudahkan akses bagi pelaku usaha mikro di pelosok. Dengan berkembangnya teknologi memang hal ini bukan lagi menjadi isu utama, namun hal ini rasanya bisa menjadi topik diskusi kita di lain kesempatan. BRI Unit juga menerapkan asas simplicity, artinya segala sesuatu yg berkaitan dg proses kredit mikro dilakukan secara sederhana, mulai legalitas usaha, perhitungan analisa kebutuhan kredit, pola angsuran, agunan dsb dibuat sesimple mungkin sehingga memudahkan calon debitur dan kredit dapat dicairkan dalam waktu cepat. Sementara untuk kredit ritel dan menengah secara umum saya rasa tidak ada perbedaan yg berarti dibandingkan dengan bank-bank lain. Analisis terutama berdasarkan 5C yg meliputi Character, Capacity, Capital, Condition of Economic dan Collateral.

Saya kebetulan agak sering tugas di Sumatera, jadi salah satu sektor yg mau tidak mau saya biayai adalah perkebunan kelapa sawit. Pembiayaan diberikan dari mulai kredit mikro kepada petani sawit perorangan, kredit ritel sampai menengah untuk yg skalanya besar. Beberapa pihak yg dapat dibiayai dari bisnis sawit antara lain perkebunan inti, petani plasma, Pabrik Kelapa Sawit (PKS), pedagang TBS/pengepul sbg suplier PKS, angkutan TBS atau CPO. Adapun titik kritis dalam pembiayaan sawit adalah sbb:

  1. Pengalaman Manajemen
  2. Lahan yang Digunakan
  3. Bibit
  4. Project Cost
  5. Legalitas
  6. Lahan sebagai agunan
  7. Modal

Moderator : Pak, saya tertarik dgn community banking yg td bapak jelaskan. Disebutkan bahwa saat ini sudah tidak dipersyaratkan lg pegawai unit bri dr daerah setempat..kl boleh tahu, knp ya Pak?

Baik Pak. Ini sebenarnya karena perkembangan jaman yg memungkinkan mobilitas yg lebih tinggi bagi penduduk. Disamping itu ketersediaan SDM yg memenuhi kualifikasi di lokasi BRI Unit berdiri sangat terbatas shg terpaksa harus menempatkan orang dari “luar”. Ini terutama terjadi pada saat BRI gencar membuka unit kerja baru. Namun demikian spt yg saya sampaikan tadi, saat ini sedang ditata ulang agar semaksimal mungkin pegawai dikembalikan ke tempat asalnya

———–SESI TANYA JAWAB———-

Pertanyaan dari Sdr. Frangga (Kantor Cabang Solo)

Perkebunan sawit, terutama sawitnya unik dan khas,  buah sawit tidak boleh lama untuk segera di olah (harus segera dan cepat) karena akan menurunkan kualitas minyak yg hasilkan, artinya di sekitar perkebunan sawit harus ada pabrik pengolahan dan tidak jauh dari perkebunannya, pertanyaannya, Apakah BRI dalam membiayai perkebunan sawit dipersyaratkan untuk mempunyai pabriknya juga?

Pak Frangga, kita mensyaratkan justru sebaliknya. Untuk pembiayaan PKS justru harus punya kebun sendiri minimal 20% untuk mengcover kapasitas pabrik. Hal ini karena saat ini rasio jumlah kebun (TBS) dg jumlah PKS sudah berimbang bahkan kecenderungannya PKS lebih banyak daripada jml kebun. Hitung2annya PKS dg kapasitas 1 ton per jam dipenuhi oleh kebun seluas 200 Ha. Shg untuk PKS skala menengah 45 ton per jam dipenuhi oleh kebun 9000 Ha atau harus punya kebun sendiri seluas 1800 Ha

Pertanyaan dari Bpk. Trio Witarko (Kepala Cabang Jamkrindo Samarinda)

Sektor mikro, menurut kami segmen pembiayaan yang unik, karena karakter segmen mikro yang tidak bisa membedakan antara uang untuk usaha dengan uang untuk hidup.  Hal inilah mungkin yang menyebabkan sektor pembiayaan mikro sangat rentan terhadap kredit macet. Akan tetapi selain karakter tersebut…segmen mikro juga lebih mudah “didekati” dengan pendekatan emosional.. kekeluargaan dan aspek sosiologis

Yang pengen saya tanyakan bapak…. bagaimana cara bapak selaku pimpinan dalam ikut turun mengelola segmen kredit mikro, dimana kita tau segmen mikro masih kental rasa sungkan “ ewuh pekewuh” dengan pejabat. Bagaimana bapak melakukan pendekatan kepada kalangan dimana mereka sendiri sungkan dengan kita.

Bertemu kembali Pak Trio, sohib saya di palembang. Memang yg sering berhadapan langsung dg nasabah adalah mantri dan kaunit. Namun secara sampling saya juga lakukan kunjungan on the spot. Insya Allah hal itu masih bisa kita lakukan dg efektif. Untuk lebih mencairkan suasana kita harus berpenampilan sama dg mantri kita. Selain kunjungan ke nasabah, kredit mikro di BRI juga dilengkapi dg alat kontrol yg detail shg apabila ada portofolio yg tidak sewajarnya bisa cepat terdeteksi.

Pertanyaan dari Bpk. Ilham Prasojo (Kepala Cabang Jamkrindo Pekanbaru)

Sehubungan BRI dikenal sebagai jagonya UMKM, kami ingin bertanya bagaimana bapak menyikapi permasalahan dalam membiayai pelaku UMKM. Secara umum yg kami ketahui bahwa permasalahan UMKM adalah :

  1. SDM yang masih minim pengetahuan
  2. Belum memiliki legalitas usaha
  3. Kurang berinovasi

Dan menurut bapak, apakah pembiayaan kepada UMKM termasuk yang memiliki risiko tinggi atau tidak?

Permasalahan umum umkm memang seperti itu. Tetapi hal ini sdh lama menjadi pekerjaan kami di BRI dan alhamdulillah sampai saat ini kami menjadi yg terbaik di Indonesia. Terkait dg minimnya pengetahuan nasabah UMKM, kami juga ikut memberikan konsultasi, termasuk membantu menyusun laporan keuangan dari catatan2 yg terserak. Termasuk juga untuk hal2 teknis terkait bisnis ybs. Mengenai legalitas usaha sangat kami permudah, cukup dg surat ket usaha dari kelurahan. Sedangkan bicara risiko sebenarnya risiko bisnis mikro relatif terjaga karena tersebar di banyak nasabah dan ini sdh terbukti pada saat krisis moneter mereka yg paling mampu bertahan.

Pertanyaan dari Sdr. Wimbi (Kepala Cabang Jamkrindo Batam)

Dengan kondisi perekonomian Di daerah batam Dan karakter penduduk yg mayoritas pendatang..bagaimana Cara tmn2 BRI dalam screening kelayakan nasabah dalam memberikan fasilitas Kredit KUR?

Kita ketahui memang di Batam banyak pendatang bahkan dalam 2 tahun terakhir banyak penduduk yang meninggalkan Batam kembali ke daerah asalnya. Cara kami memitigasi risiko antara lain melihat lamanya waktu ybs tinggal di Batam. Semakin lama ybs sdh domisili di Batam maka ini yg menjadi prioritas. Selain lama tinggal kita juga lihat lamanya usaha ybs. Meskipun syarat minimal usaha hanya 6 bulan tetapi kami akan lebih mempertimbangkan yg usahanya lebih lama.

Pertanyaan dari Bpk. Erwin (Kepala Cabang Jamkrindo Banjarmasin)

Apakah langkah-langkah yang dilakukan BRI untuk Collection atas tunggakan kredit yang dilakukan oleh kredit-kredit mikro kecil?

Untuk NPL kami selalu bagi/ breakdown ke semua mantri baik daftar nominatifnya maupun target restrukturisasi atau penyelesaiannya. Mantri kemudian akan melakukan penagihan. Bila memungkinkan maka dilkakukan restrukturisasi. Namun bila tidak bisa diselamatkan dilakukan penyelesaian. Kita tahu agunan kredit mikro tidak diikat dg Gak Tanggungan shg penyelesaian melalui jalur hukum yg kami lakukan adalah dg somasi maupun gugatan sederhana melalui Pengadilan. Di beberapa tempat cara ini cukup efektif. Selain itu kami juga melakukan lembur grebeg tunggakan tiap hari Sabtu bergiliran.

———-KESIMPULAN———-

Dalam melayani nasabah skala Mikro (UMKM) pendekatan utamanya bukan dari sisi financial semata tetapi juga perlu memperhatikan aspek sosiologis (personal touch) dengan memperhatikan prinsip-prinsip antara lain Demand Driven, Accessibility, simplicity, transparency, cost recovery dan sustainability.

Aspek sosiologis tersebut salah stu penerapannya melalui community banking. Perbankan melakukan pendekatan kepada komunitas-komunitass sosial dan untuk mendukung community banking tersebut, maka pegawai perbankan yang direkrut adalah orang-orang lokal yang lebih mengetahui karakter setempat.

Selain community banking, prinsip simplicity menjadi hal penting untuk kredit Mikro. Segala sesuatu yg berjaitan dg proses kredit mikro dilakukan secara sederhana dan sesimple mungkin, mulai legalitas usaha, perhitungan analisa kebutuhan kredit, pola angsuran, agunan sehingga memudahkan calon debitur dan kredit dapat dicairkan dalam waktu cepat

Sementara untuk pembiayaan perkebunan, utamanya kelapa sawit, ada 7 criticl point yg harus diperhatikan:

  1. Pengalaman manajemen
  2. Lahan yg digunakan
  3. Bibit
  4. Project Cost
  5. Legalitas
  6. Lahan sebagai agunan
  7. Modal
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s