KulWA #27 “Telaah Ekonomi, Properti, dan UMKM Indonesia”

WhatsApp Image 2017-11-01 at 19.04.00.jpeg

Sesi Kuliah Whatsapp (KulWA) pada Rabu, 1 November 2017 berjudul “Telaah Ekonomi, Properti, dan UMKM”. Telah hadir bersama kita narasumber ditengah kita adalah Bapak Winang Budoyo. Sedikit profil tentang narasumber pada malam ini :

Bapak Winang Budoyo memiliki pengalaman 20 tahun di lembaga riset. Saat ini memimpin Grup Ekonom PT Bank BTN, sebuah kelompok riset yang mencakup riset ekonomi makro dan mikro bagi bank tersebut. Dengan latar belakang riset yg kuat, beliau telah bekerja di lembaga pemerintah, lembaga riset, serta bank investasi maupun bank komersial. Memperoleh Gelar Master dalam bidang ekonomi dari Univ. of Queensland, Australia dengan beasiswa Australian Development Scholarship dan secara bersamaan juga memperoleh Gelar Magister Ekonomi dari Universitas Indonesia. Beliau adalah pembicara rutin bagi perbankan, sektor swasta, serta lembaga pemerintah nasional maupun asing.

Beliau menulis berbagai artikel di koran dan majalah dan menjadi pembicara dalam wawancara TV secara langsung. Sebelum menjadi Kepala Ekonom di Bank BTN, beliau adalah Kepala Ekonom Bank CIMB Niaga selama 10 tahun serta sebagai ekonom selama 3 tahun di Mandiri Sekuritas. Pengalaman Beliau dalam kebijakan pemerintah dimulai pada 1996 dimana beliau berkarir selama 2 tahun di Kementerian Koordinator Perekonomian, kemudian dilanjutkan dengan 8 tahun di Center for Policy and Implementation Study (CPIS) yang merupakan lembaga di bawah Kementrian Keuangan. Di sana beliau berkarir sebagai research associate. Bersama dengan kedua lembaga pemerintah tersebut, beliau terlibat dalam berbagai riset yang mencakup pengembangan kebijakan, program dan implementasinya, Norwegian Mixed Credit, Jaringan Keamanan Sosial, serta publikasi dalam usulan kebijakan pariwisata. Pengalaman lain beliau dalam industri perbankan diperoleh ketika menjadi trainer dalam bidang Regulasi dan Risiko Perbankan.

———-MATERI———

Selamat malam Bapak dan Ibu, perkenalkan saya Winang Budoyo, Chief Economist bank BTN. Malam ini saya diminta untuk berdiskusi mengenai kondisi ekonomi terkini, kondisi sektor perumahan dan juga UMKM. Sesuai dengan bahan yang sudah saya siapkan, maka pembahasan saya akan terbagi menjadi 4 bagian yaitu dimulai dengan melihat kondisi makro ekonomi global dan kemudian masuk ke Indonesia, bagian selanjutnya membahas kondisi sektor perbankan, dan terkahit dengan hal ini maka saya lanjutkan dengan melihat potensi sektor perumahan. Pada bagian akhir, saya tidak hanya membahas tentang UMKM tetapi juga membahas Ekonomi Digital karena saya melihat bahwa kedepannya Ekonomi Digital ini dapat dipakai sebagai salah satu platform untuk dapat mengembangkan UMKM di Indonesia.

Baik saya mulai dengan melihat kondisi terkini dari perekonomian global yang pada dasarnya sudah menunjukkan pertumbuhan yang membaik dan sesuai dengan perkiraan awal. Perekonomian AS tetap tumbuh meskipun berpotensi lebih rendah dari perkiraan sebelumnya, sejalan dengan investasi yang tertahan. Kemudian pertumbuhan ekonomi Eropa diperkirakan akan lebih baik seiring dengan peningkatan aktivitas konsumsi, kinerja ekspor, dan optimisme perekonomian. Ekonomi Tiongkok diperkirakan lebih baik yang ditopang oleh Konsumsi (penjualan eceran yang stabil, membaiknya sektor tenaga kerja, dan membaiknya tingkat keyakinan konsumen) dan Ekspor (membaiknya permintaan global) yang meningkat. Dan yang terpenting buat Indonesia adalah bahwa harga komoditas global diperkirakan tetap tinggi, yang ditopang oleh harga batubara yang tetap tinggi akibat gangguan pasokan di Australia dan kenaikan permintaan Tiongkok, meskipun harga minyak berpotensi bias ke bawah yang terkait pasokan yang berlebih di tengah permintaan yang terbatas. Tentu saja kita tetap harus waspada karena risiko tetap dapat muncul yang terutama berasal dari :

  1. Kenaikan FRR dan Balance Sheet Reduction The Fed
  2. Risiko Eropa : Perbankan Italia dan utang Yunani
  3. Risiko bias ke bawah dari harga Komoditas (Energi dan Non Energi)
  4. Potensi bias ke atas dari Volume Perdagangan Dunia

Dampak yg langsung terlihat oleh kita adalah dalam bentuk pergerakan rupiah. Dari awal tahun 2017 sampai dengan Agustus kelihatannya rupiah bergerak stabil dikisaran 13.000an. Tp memasuki bulan September rupiah mulai melemah. Hal ini sebenarnya lebih disebabkan oleh USD yg melemah dan kemudian menguat. US dollar mengalami penguatan setelah President Trump mengumumkan Tax Plan (21 Sep 17) yang akan diajukan untuk mendapatkan persetujuan dari Kongres. Trump menyebut program pajaknya dengan “Revolutionary Change” yang dipercaya akan dapat mendorong pertumbuhan ekonomi AS dan meningkatkan upah rata-rata pekerja di AS. Inti dari Tax Plan itu adalah adanya pengurangan tax rate bagi individu dan juga korporasi, yang disebut-sebut sebagai rencana pengurangan pajak yang terbesar dalam sejarah AS. Meskipun mata uang Asia lain juga melemah terhadap US dollar tapi pelemahan Rupiah termasuk yang terbesar karena Rupiah masih dipersepsikan sebagai salah satu mata uang yang paling vulnerable di Asia. Jadi, meskipun ekonomi Indonesia dianggap baik, yg salah satunya ditandai dgn predikat Investment Grade yg full, namun persepsi dunia terhadap rupiah masih belum berubah.

Nah, setelah kita berkeliling dunia mari sekarang kita mendarat di bumi nusantara. Ekonomi Indonesia sebenarnya sudah memasuki fase pemulihan, dimana pertumbuhan ekonomi Indonesia sudah rebound di 2016 dan akan memasuki Fase Pemulihan di 2017 dengan tren meningkat di tahun-tahun berikutnya. Ekonomi Indonesia tumbuh sebesar 5,02% di tahun 2016, yang merupakan pertumbuhan ketiga terbesar untuk negara G20 setelah India dan Tiongkok. Kontributor terbesar ekonomi Indonesia masih berasal dari Konsumsi dan disusul Investasi. Yang sekarang sedang banyak dipergunjingkan adalah apakah konsumsi masyarakat turun?

Jika melihat data-data bahwa jumlah tenaga kerja bertamban 4 juta, rata-rata upah naik 24%, BI sudah menurunkan suku bunga acuan 200bps, tapi penjualan ritel turun. Hal ini bukan karena turunnya daya beli tapi lebih pada perubahan pola konsumsi masyarakat, terutama kelas menengah ke atas, yang terkait dengan turunnya confidence mereka untuk spending. Beberapa slides menunjukkan turunnya confidence konsumen Indonesia. Karena itulah maka pemerintah harus berupaya agar dapat meningkatkan kembali confidence tersebut, karena konsumsi masyarakat Indonesia sebenarnya masih stabil dan masih mempunyai kekuatan daya beli yang sangat menjanjikan. Dan yang terpenting adalah bagaimana mendorong confidence dari usia produktif yang terdiri dari Gen X dan Gen Y. Namun yang menarik sekaligus mempunyai peranan penting adalah Gen Y (kaum Millenials) karena mempunyai pola pikir dengan kita-kita yang termasuk Gen X. Yang mengejutkan adalah hasil penelitian yang menunjukkan bahwa Gen Y itu justru bersifat konservatif terhadap risk tolerance (risk averse), dimana mereka lebih memilih memegang Cash daripada melakukan Investasi. Pada slide 21 kita bisa melihat sebagian dari sifat yang dimiliki oleh generasi Millenials yang memang mempunyai perbedaan dengan generasi sebelumnya.

Econ Jamkrindo_1Nov17_021

Artinya kalau kita ingin menjadikan mereka sebagai target market maka kita harus dapat berpikiran seperti mereka. Penting buat kita utk bs menjadikan Gen Y ini sebagai target market karena dlm 5 tahun ke depan mereka dapat masuk dlm segmen emerging affluent, yang merupakan konsumen dengan daya beli yg tinggi.

Kembali pada pertumbuhan ekonomi Indonesia. Ketika secara nasional pertumbuhan ekonomi Indonesia hanya tumbuh sebesar 5.0%, ternyata ada daerah-daerah di luar Jawa, terutama di Kawasan Timur Indonesia yang tumbuh di atas 6.0%. Kawasan Timur Indonesia mempunyai pertumbuhan ekonomi yang tinggi karena ekonominya bersumber pada industri perikanan, perkebunan, dan pariwisata.PDRB Jawa relatif stabil yang bersumber pada industri manufaktur (pengolahan). Sementara kawasan Sumatera dan Kalimantan mempunyai pertumbuhan PDRB yang lebih rendah dari pertumbuhan PDB nasional, karena masih mengandalkan industri batubara, migas, dan kelapa sawit. Saya selalu mengatakan bahwa Indonesia itu luas dan tidak hanya terpusat di Jawa. Dan terbukti bahwa provinsi-provinsi di luar Jawa justru mempunyai potensi yg luar biasa. Apalagi terkait dgn proyek infra pemerintah yg fokus pada basic infra utk kawasan-kawasan yg selama ini belum tersentuh. Tentu saja hasilnya baru akan bisa terlihat dlm bbrp tahun ke depan. Pada intinya, peta pertumbuhan ini dapat kita pakai untuk melihat potensi ekonomi daerah, termasuk untuk melihat potensi sektor perumahan dan UMKM tentunya. Dalam hal ini saya selalu mengatakan penting bagi kita untuk melihat provinsi yg mempunyai pertumbuhan ekonomi yg tinggi. Tp perlu jg dilihat provinsi yg mempunyai perubahan pertumbuhan yg tinggi, seperti misalnya Riau yg th 2016 tumbuh 2,2% tp diprediksi akan bs naik menjadi 4% di 2017. Ini menunjukkan bahwa daerah tsb sdh rebound dan mempunyai potensi untuk bertumbuh lebih tinggi lagi.

Setelah mengelilingi kepulauan di Nusantara tercinta ini, marilah kita melihat kondisi sektor perbankan. Sektor perbankan masih fokus pada menjaga kualitas asset. Akibatnya transmisi melalui jalur kredit perbankan masih lambat, dimana antara Jan16-Sep17 suku bunga acuan BI sudah turun 200bps, tetapi suku bunga deposito bank hanya turun 145bps (Jan16-Jul17), bahkan suku bunga kredit hanya turun 110bps. Di lain pihak, transmisi melalui jalur nonbank meningkat. Kondisi bank di Indonesia sebenarnya masih kuat, yang ditandai dengan CAR dan NIM yang terus meningkat. Namun pada saat yang bersamaan menghadapi NPL yang terus naik. Terjadi vicious circle (lingkaran setan) antara pertumbuhan ekonomi dengan pertumbuhan kredit, dimana pertumbuhan kredit melambat karena turunnya demand dan supply kredit.

Econ Jamkrindo_1Nov17_031

Diawali dengan pertumbuhan ekonomi yg melambat yg mendorong penurunan DPK sbg sumber dari kredit. Di sisi lain, krn ekonomi melambat maka NPL meningkat, tp krn bank tetap hrs memberikan kredit maka standar pemberian kredit diperketat. Nah kedua faktor ini yg membuat supply kredit menjadi turun. Bgm dengan demand atau permintaan atas kredit? Nah, ketika ekonomi sedang lesu dan belum menunjukkan tanda2 akan berakhir dlm waktu dekat maka pengusaha blm merencakan untuk melakukan ekspansi usaha. Akibatnya permintaan atas kredit jg turun. Di sinilah munculnya lingkaran setan yang terus berkepanjangan sampai sekarang. Padahal jika melihat data historis, lag antara pertumbuhan kredit dan pertumbuhan kredit itu mempunyai lag selama 1 kuartal pada 2006, kemudian menjadi 2 kuartal pada 2009. Tp kali ini lebih panjang krn jika dilihat dr rebound nya pertumbuhan ekonomi di kuartal 3 2015, maka saat ini sdh memasuki kuartal ke 8 tp pertumbuhan kredit masih saja di bawah 10%.

Sampai dengan bulan Juni 2017, perbankan masih fokus pada perbaikan kualitas kredit, yang terlihat dari masih lemahnyanya pertumbuhan kredit (terutama bank BUKU 3) di tengah NPL gross yang masih cukup tinggi. Untuk dapat mendorong intermediasi perbankan, maka BI berencana mengeluarkan kebijakan makroprudensial lanjutan:

  1. Memasukkan obligasi korporasi ke dalam perhitungan Loan-to-Funding sehingga likuiditas bank bisa disalurkan juga ke sekuritas bukan hanya melalui pinjaman
  2. Relaksasi LTV KPR dan KKB berdasarkan spasial atau region untuk dapat mendorong permintaan kredit di daerah-daerah luar Jawa

Fokus BI pada sektor perumahan karena BI melihat potensi pada sektor ini, dimana kontribusi sektor perumahan terhadap PDB yang masih di bawah 3% ini justru menujukkan potensi untuk meningkat lebih tinggi lagi. Salah satu sumbernya adalah masih tingginya permintaan akan rumah dan kebutuhan pembiayaan properti nasional, dimana bank masih menjadi sumber pembiayaan yang penting bagi perusahaan pengembang (developer) dan masyarakat konsumen. Di sinilah maka Bank BTN memiliki peran strategis di bidang perumahan nasional sebagai pelaksana utama Program 1 Juta Rumah dalam rangka transformasi BUMN.

Moderator : Luar biasa Pak Winang penjelasannya, sementara yang kami catat bahwa Ekonomi Indonesia telah memasuki fase pemulihan, dimana pertumbuhan ekonomi Indonesia sudah rebound di 2016 dan akan memasuki Fase Pemulihan di 2017 dengan tren meningkat di tahun-tahun berikutnya. Turunnya daya beli masyarakat yang saat ini dipergunjingkan ternyata salah, tapi lebih pada perubahan pola konsumsi masyarakat, terutama kelas menengah ke atas, yang terkait dengan turunnya confidence mereka untuk spending. Karena konsumsi masyarakat Indonesia sebenarnya masih stabil dan masih mempunyai kekuatan daya beli yang sangat menjanjikan

Sebenarnya daya beli ada yg turun tp untuk segmen tertentu. Coba kita lihat slide 16 yg menunjukkan pengeluaran per kapita berdasarkan desil.

Econ Jamkrindo_1Nov17_016

Desil ini merupakan pembagian kelompok masyarakat berdasarkan penghasilannya. Desil 1 adalah kelompok masy paling miskin dan desil 10 adalah yg paling kaya. Coba perhatikan garis merah dan biru yg menunjukkan pertumbuhannya th 2017 dan 2016. Desil 10 sebagai kelompok orang terkaya maka pengeluarannya tidak mengalami penurunan krn memang mrk tdk terdampak lesunya ekonomi nasional. Dalam bayangan kita, pasti menduga desil 1 mengalami penurunan pengeluaran. Namun dalam kenyataannya tidak karena desil 1-4 adalah kelompok masyarakat yg mendapatkan subsidi dr pemerintah. Jd adanya subsidi tsb membuat kelompok ini masih dapat meningkatkan konsumsi. Desil 5-9 masuk dalam kelompok menengah, namun dibagi lagi menjadi kelas menengah bawah (desil 5-6) dan kelas menengah atas (desil 7-9). Di kelompok inilah yg menarik. Desil 5 itu bisa dibilang kelompok masyarakat yg tidak kaya tp nyaris miskin. Mereka mengalami penurunan penghasilan krn misalnya sebagai buruh, meskipun upah nominal naik namun upah riil atau take home pay mrk turun krn jam kerja mrk diturunkan oleh pengusaha sbg upaya mengurangi biaya. Tp mrk tidak memperoleh subsidi krn mrk tdk masuk dlm definisi miskin. Desil 5 & 6 inilah yg mengalami penurunan daya beli. Sementara utk desil 7-9 inilah merupakan kelompok masyarakat yg mengubah pola konsumsi mrk menjadi menabung krn hilangnya confidence mrk utk berbelanja.

Selanjutnya saya ingin membahas keterkaitan antara Ekonomi Digital dengan sektor UMKM. Tingkat Financial Inclusion Indonesia masih rendah, dimana akses masyarakat terhadap layanan keuangan di Indonesia masih Terbatas. Namun, perkembangan penggunaan layanan mobile memberikan peluang perluasan akses keuangan melalui teknologi digital. Tampak pada slide 48 bahwa baru 59% dari UMKM yang mempunyai rekening pada lembaga keuangan formal dan baru 26% UMKM yang mempunyai kredit dari lembaga keuangan formal. Padahal selama ini sebenarnya UMKM di Indonesia sudah terintegrasi dengan e-commerce, dimana dengan terbatasnya akses UMKM terhadap layanan keuangan konvensional di Indonesia, maka e-commerce dapat menjadi platform pengembangannya, namun perlu dukungan semua pihak terutama regulator. Sebagai contoh Tokopedia dimana Tokopedia merupakan market place yang tidak mempunyai produk dan logistik, tetapi 16,5 juta produk terjual per bulan dengan nilai transaksi per bulan triliunan rupiah, dan 80% transaksi di Tokopedia itu pemain baru yang berarti termasuk dalam UMKM. Contoh kedua adalah GoFood, dimana meskipun target market dari GoFood adalah segmen Affluent Market tapi mempunyai dampak positif terhadap UMKM. Kita ambil contoh transaksi penjualan martabak melalui GoFood di Jakarta tahun 2016 mencapai Rp500 miliar, terus meningkat menjadi Rp1 triliun tahun 2007..ini baru martabak. Efek lainnya, untuk mengembangkan bisnis, penjual martabak tidak perlu membuka cabang baru yang tentunya membutuhkan biaya yang besar.

Dalam 4 slide terakhir, saya tampilkan data Kredit UMKM sampai dengan bulan Agustus 2017.

Econ Jamkrindo_1Nov17_052

Econ Jamkrindo_1Nov17_053

Econ Jamkrindo_1Nov17_054

Econ Jamkrindo_1Nov17_055

Dalam dua tahun terakhir, pertumbuhan kredit UMKM lebih tinggi daripada total kredit namun mempunyai rasio NPL yang lebih tinggi. Besaran kredit UMKM terhadap total kredit terus meningkat, tapi belum mencapai 20%. Tapi yg perlu mendapat perhatian, ternyata rasio NPL kredit umkm lebih tinggi daripada radio npl total kredit perbankan. Di bulan agustus 2017, rasio npl industri perbankan kembali naik menjadi 3%, rasio npl kredit umkm jg naik menjadi 4.3%. Dilihat dari Sektor, maka Kredit UMKM disalurkan mayoritas ke sektor Perdagangan (53%), dan diikuti sektor Pengolahan (10%), sektor Pertanian (8%), sektor Konstruksi (6%), sektor Jasa Kemasyarakatan (5%), dan Real Estate (5%). Pertumbuhan kredit yang tinggi pada sektor yang terkait program Infrastruktur Pemerintah, sektor Keuangan, dan sector yang melibatkan masyarakat menengah ke bawah. Namun NPL untuk sektor-sektor tersebut juga tinggi. Sementara jika dilihat dari provinsi maka pertumbuhan kredit yang tinggi justru terdapat pada provinsi-provinsi di Kawasan Tengah dan Timur Indonesia.

———-SESI TANYA JAWAB———-

Pertanyaan dari Bpk. Wahyu Widjaja (Kabag Bisnis Penjaminan Bank BUMN)

Q : Mencermati paparan bapak mengenai kontribusi sektor perumahan terhadap PDB yang masih rendah, namun ada keyakinan bahwa perkembangan sektor perumahan nasional diperkirakan akan terus membaik seiring perbaikan faktor-faktor penentu pertumbuhan bisnis properti seperti : Pertumbuhan ekonomi yang positif, Bonus demografi indonesia, tingkat suku bunga BI yang masih rendah dan pembangunan infrastruktur yang terus tumbuh.

Pertanyaan saya adalah, seberapa besar potensi faktor-faktor tersebut mempercepat perkembangan sektor perumahan nasional? Forecasting-nya kira-kira akan selama berapa tahun kedepan sehingga dapat dikatakan sektor perumahan nasional sudah ideal. Sementara dalam RAPBN 2018 FLPP turun

A : Begini pak Wahyu, semua tentunya membutuhkan waktu. Dgn backlog sebesar 11,4 juta rumah tangga yg blm mempunyai rumah, dimana permintaan akan rumah itu sebanyak 800rb sementara kemampuan pengembang maksimum 400rb an, maka backlog tsb baru bs teratasi lebih dr 20 th. Pemerintah berupaya untuk mempercepat masalah backlog ini dgn program 1 juta rumah. Sementara utk masalah FLPP, meskipun FLPP nya turun namun program 1 jt rumah msh dpt dijalankan melalui Selisih Suku Bunga (SSB).

Pertanyaan dari Sdri. Nastiti Pandanwangi (Kabag Kepatuhan, Divisi Hukum dan Kepatuhan)

Q : Sebagai pelaksana utama progaram 1 juta rumah, bagaimanakah progresnya sampai dengan saat ini? Dan dalam menyikapi tren teknologi digital saat ini, bagaimana proses atau peran Bank BTN dalam upaya meningkatkan perkembangan perumahan nasional. Apakah misalnya ada simplifikasi bisnis proses pengajuan pembiayaan perumahan melalui teknologi digital atau lainnya?

A : Baik bu Nastiti, sebenarnya kalau sdh berbicara mengenai angka2 bank BTN dan strateginya ke depan, maka itu bukan porsi saya untuk menjawab. Namun sy akan mencoba menjawab secara umum saja. Secara umum, BTN sdh berperan membantu hampir 1,5juta masyarakat Indonesia dgn total kredit Rp155 Triliun dalam program 3th pemerintahan Jokowi-JK. Sementara pemakaian teknologi digital diyakini akan dapat meningkatkan efisiensi. Sehingga bank BTN saat ini jg mengembangkan digital banking untuk memberikan kemudahan dan kenyamanan pelayanan kepada nasabah. Simplifikasi proses merupakan salah satu tujuan utama.

Pertanyaan dari Sdr. Topan (Kabag Penjaminan Kanwil II Palembang)

Q : Disebutkan di media” bahwa generasi milenial kmungkinan kedepan akan kesulitan membeli rmh, slain mgkn disebabkan krn gaya hidup, salah satu faktornya jg bs dipengaruhi oleh besarnya kenaikan harga properti dibandingkan kenaikan pendapatan bagi generasi muda. bila dilihat riwayat sejarahnya mulai 2009-2012 yang menjadi era di mana properti sedang meledak, kenaikan harga rumah bisa mencapai 200% atau 50%/th, dimana kebanyakan pembeli adl investor & pemain properti shg generasi milenial kesulitan dlm membeli properti tsb. Pertanyaannya, bgmn upaya pemerintah dlm hal ini kpd developer agar pembelian properti mjd tepat sasaran kpd org yg bnr” membutuhkan rmh bkn investor ato spekulan & khususnya perbankan dlm mmberikan pembiayaan.

A : Pak Topan, menurut saya model penyaluran rusunawa bisa dicontoh, dimana ada screening yg tegas dan jelas mengenai siapa yg berhak tinggal di situ. Tentu saja model spt itu tdk hanya membutuhkan transparansi tp jg hrs ada database yg akurat. Krn itu diperlukan single identity yg bs dipakai utk segala keperluan tp tdk bs dimanipulasi.

Pertanyaan dari Sdr. Kartono (Kabag SPI)

Q :

  1. Jika melihat kredit FLPP BTN tentunya itu untuk kalangan MBR dan suku bunga flat,sangat bagus membantu MBR.
  2. Jika bicara suku bunga acuan BI,memang suku bunga BI hanya tanyang dimedia tanpa diacu oleh Bank (sekalipun jadi acuan,entah berapa bulan setelah suku bunga diumumkan),berdasarkan hasil pengamatan pribadi.
  3. Kondisi yg paling dirugikan menurut saya adalah kalangan menengah,mereka yg memiliki kredit komersial yg dikenakan bunga tinggi,sedangkan bank memberikan suku bunga maks 5 % untuk DPK.
  4. Gap antara suku bunga lending (12 s.d 13%),sedangkan suku bunga funding (4 s.d 5%).

Pertanyaan:

  1. Sejauh ini BI selaku regulator hanya memberikan instruksi agar Bank mengacu pada suku Bunga BI (sekali lagi,hanya diminta mengacu,kenapa tidak ada action lebih dari pihak regulator ketika bank belum mengacu pada suku bunga BI).
  2. Sependek pengetahuan saya,bunga bank tinggi dikarenakan bank memberikan bunga yg fantantis bagi nasabah prioritas,bahkan dikisaran 9 s.d 10 %. Lagi-lagi kita dihadapkan pada fenomena yg punya banyak uang semakin kaya.

Bagaimana menurut Bapak menyikapi gap suku bunga funding dan lending yg sebetulnya berdampak pada suku bunga lending,yg akhirnya bank sulit mengacu pada suku bunga BI?

A : Selaku otoritas di sektor moneter, BI bertugas menjaga kestabilan sektor moneter dgn suku bunga acuan sbg salah satu alatnya. Pergerakan suku bunga acuan akan dijadikan dasar pergerakan suku bunga perbankan. Sejak awal 2016 sampai saat ini, BI sdh menurunkan suku bunga acuan sebesar 2%. Dan sebenarnya bank sdh mengikuti arah penurunan ini, baik utk bunga pinjaman maupun bunga deposito (dana pihak ketiga). Namun memang penurunannya tdk bs sebesar suku bunga acuan. Untuk periode yg sama, bunga deposito sdh turun 1,45% sementara bunga kredit hanya turun 1,1%. Pendalaman sistem keuangan jg sdh dilakukan BI agar bank tdk tergantung lg pd deposito yg berbunga tinggi. Seperti misalnya mengembangkan produk2 pasar uang dan juga menggencarkan transaksi repo. Pd intinya agar bank mempunyai alternatif sumber daya yg lbh murah drpd deposito. Kalau hal ini sdh berkembang maka bunga kredit akan jg dot diturunkan. Tp sebenarnya bank jg sdh tidak dpt lagi seenaknya memberikan bunga yg tinggi krn ada batas maksimum yg diberikan oleh OJK dan LPS (terkait program penjaminan dana nasabah)

Pertanyaan dari Sdr. Agung (Kabag Divisi Program)

Q : Selamat malam Pak Winang, perkenalkan saya Agung dr Div Kredit Program..terima kasih atas paparannya yg komprehensif. Dalam paparan Bapak td disebutkan bahwa masih ad backlog perumahan yg cukup tinggi, sementara Pemerintah sendiri sudah memiliki program FLPP/KPRS, tapi tampaknya belum terlalu signifikan untuk mengurangi backlog tsb. Menurut Bapak apa yg menjadi penyebab utamanya dan langkah apa yg bs dilakukan untuk mempercepat mengurangi backlog tsb? Terima kasih Pak

A : Makasih pertanyaannya pak Agung. Memang dgn backlog yg demikian besar dan kemampuan pengembang dr sisi supply yg jg masih terbats blm akan dpt menyelesaian masalah tsb dalam waktu dekat. Program 1 jt rumah saat ini hanya berusaha utk memperpendek masa backlog tsb. Salah satu masalah dr sisi supply ada soal ketersediaan tanah, baik dr sisi landbank nya sendiri maupun harganya. Spt kita tahu harga tanah dpt dimanipulasi oleh makelar2 tanah. Nah salah satu upaya pemerintah utk menjaga kenaikan harga tanah adalah dgn rencana pembentukan bank tanah, dimana institusi tsb akan bertugas mempersiapkan tanah bagi proyek perumahan.

———-KESIMPULAN———-

  1. Saat ini perekonomian global pada dasarnya sudah menunjukkan pertumbuhan yang membaik dan sesuai dengan perkiraan awal, diiringi dengan pentingnya kewaspadaan terhadap risiko yang tetap dapat muncul, terutama berasal dari (1)kenaikan FFR dan Balance Sheet Reduction The Fed, (2)Resiko Eropa: Perbankan Italia dan Utang Yunani, (3)Resiko bias ke bawah dari Harga Komoditas (Energi dan Non Energi), dan (4) Potensi bias ke atas dari Volume Perdagangan Dunia.
  2. Ekonomi Indonesia juga telah memasuki fase pemulihan, dimana pertumbuhan ekonomi Indonesia sudah rebound di 2016 dan akan memasuki Fase Pemulihan di 2017 dengan tren meningkat di tahun-tahun berikutnya. Turunnya daya beli masyarakat yang saat ini dipergunjingkan ternyata salah, tapi lebih pada perubahan pola konsumsi masyarakat, terutama kelas menengah ke atas, yang terkait dengan turunnya confidence mereka untuk spending. Karena konsumsi masyarakat Indonesia sebenarnya masih stabil dan masih mempunyai kekuatan daya beli yang sangat menjanjikan
  3. Ketika secara nasional pertumbuhan ekonomi Indonesia hanya tumbuh sebesar 5.0%, ternyata daerah-daerah di luar Jawa, terutama di Kawasan Timur Indonesia yang tumbuh di atas 6.0%. industri perikanan, perkebunan, dan pariwisata di indonesia timur ini mengalami pertumbuhan yang sangat tinggi, lebih tinggi dari pertumbuhan ekonomi secara nasional. Sektor industri yang sangat potensial. Pada intinya, peta pertumbuhan ini dapat kita pakai untuk melihat potensi ekonomi daerah, termasuk untuk melihat potensi sektor perumahan dan UMKM tentunya
  4. Saat ini sektor perbankan masih fokus pada menjaga kualitas asset. Akibatnya transmisi melalui jalur kredit perbankan masih lambat, dimana antara Jan16-Sep17 suku bunga acuan BI sudah turun 200bps, tetapi suku bunga deposito bank hanya turun 145bps (Jan16-Jul17), bahkan suku bunga kredit hanya turun 110bps. Di lain pihak, transmisi melalui jalur nonbank meningkat.
  5. Kondisi bank di Indonesia yang sebenarnya masih kuat, ditandai dengan CAR dan NIM yang terus meningkat. Namun pada saat yang bersamaan menghadapi NPL yang terus naik. Terjadi vicious circle (lingkaran setan) antara pertumbuhan ekonomi dengan pertumbuhan kredit, dimana pertumbuhan kredit melambat karena turunnya demand dan supply kredit. Terjadi vicious circle (lingkaran setan) antara pertumbuhan ekonomi dengan pertumbuhan kredit, dimana pertumbuhan kredit melambat karena turunnya demand dan supply kredit.
  6. Sampai dengan bulan Juni 2017, perbankan masih fokus pada perbaikan kualitas kredit, yang terlihat dari masih lemahnyanya pertumbuhan kredit (terutama bank BUKU 3) di tengah NPL gross yang masih cukup tinggi. Untuk dapat mendorong intermediasi perbankan, maka BI berencana mengeluarkan kebijakan makroprudensial lanjutan: (1) Memasukkan obligasi korporasi ke dalam perhitungan Loan-to-Funding sehingga likuiditas bank bisa disalurkan juga ke securities bukan hanya melalui pinjaman, (2) Relaksasi LTV KPR dan KKB berdasarkan spasial atau region untuk dapat mendorong permintaan kredit di daerah-daerah luar Jawa.
  7. Tingkat Financial Inclusion Indonesia masih rendah, dimana akses masyarakat terhadap layanan keuangan di Indonesia masih Terbatas. Namun, perkembangan penggunaan layanan mobile memberikan peluang perluasan akses keuangan melalui teknologi digital. Bahwa sebesar 59% dari UMKM yang mempunyai rekening pada lembaga keuangan formal dan baru 26% UMKM yang mempunyai kredit dari lembaga keuangan formal.
  8. Padahal selama ini sebenarnya UMKM di Indonesia sudah terintegrasi dengan e-commerce, dimana dengan terbatasnya akses UMKM terhadap layanan keuangan konvensional di Indonesia, maka e-commerce dapat menjadi platform pengembangannya, namun perlu dukungan semua pihak terutama regulator.
  9. Dalam dua tahun terakhir, pertumbuhan kredit UMKM lebih tinggi daripada total kredit namun mempunyai rasio NPL yang lebih tinggi. Besaran kredit UMKM terhadap total kredit terus meningkat, tapi belum mencapai 20%. Tapi yg perlu mendapat perhatian, ternyata rasio NPL kredit umkm lebih tinggi daripada radio npl total kredit perbankan. Di bulan agustus 2017, rasio npl industri perbankan kembali naik menjadi 3%, rasio npl kredit umkm jg naik menjadi 4.3%.
  • Dilihat dari Sektor, maka Kredit UMKM disalurkan mayoritas ke sektor Perdagangan (53%), dan diikuti sektor Pengolahan (10%), sektor Pertanian (8%), sektor Konstruksi (6%), sektor Jasa Kemasyarakatan (5%), dan Real Estate (5%). Pertumbuhan kredit yang tinggi pada sektor yang terkait program Infrastruktur Pemerintah, sektor Keuangan, dan sector yang melibatkan masyarakat menengah ke bawah. Namun NPL untuk sektor-sektor tersebut juga tinggi

 

 

 

 

 

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s